"Kami sampaikan apa yang dikatakan Pak Marzuki adalah khilaf dan kurang informasi. Dia baru satu periode di DPR jadi belum tahu semua," keluh Laode.
Hal ini disampaikan Laode dalam konferensi pers di Gedung DPD, Senayan, Jakarta, Selasa (28/6/2011).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Dia hanya direktur di sebuah perusahaan semen. Kemudian menjadi Sekjen PD, menjadi anggota DPR, kemudian atas kebaikan SBY tiba-tiba menjadi Ketua DPR. Jadi memang belum pengalaman, jadi kami memaafkan Pak Marzuki Alie," jelas Laode sambil tertawa lantang.
Laode sebenarnya memisahkan posisi Marzuki dengan jabatan Ketua DPR saat mengkritik pembangunan kantor DPD. Namun bagaimanapun juga Marzuki adalah Ketua DPR yang tak lain adalah Jubir DPR.
"Ketua DPR itu harusnya tidak bicara sembarangan sebagai speakernya harus membicarakan keputusan DPR. Jadi apa yang disampaikan Marzuki Alie tidak berdasar karena DPR menyetujui anggaran pembangunan kantor DPD ini," jelasnya.
Namun ia tak mau memperpanjang persoalan. Ia ingin memperbaiki komunikasi yang mulai rontok. "Kami berupaya membangun komunikasi yang dinamis dengan DPR khususnya Pak Marzuki Alie," tandasnya.
(van/rdf)










































