Selain menyemprot tanaman yang menjadi inang ulat, petugas juga membenamkan racun kontak ke dalam tanah, Senin (27/6/2011).
"Sabtu kemarin kita sudah semprot. Kali ini, racun kontak yang kita benamkan ke tanah adalah jenis Curater. Insektisida ini berbahaya bagi hewan ternak sehingga kita meminta warga tidak melepas ternak di kawasan ini untuk sementara," ujar Kepala Dinas Pertanian, Peternakan, Perkebunan, dan Kehutanan Kota Padang, Corri Saidan, usai penyemprotan.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kita sudah ingatkan warga agar tidak memanen dan mengkonsumsi dulu buah yang tumbuh di dekitar lokasi ini, setidaknya hingga 20 hari ke depan. Kita juga meminta warga agar bergotong-royong membersihkan lahan dan tanaman yang menjadi inang karena ulat itu akan terus berkembang bila medianya mendukung," kata dia.
Sementara itu, Kepala Laboratorium BPTPH (Balai Pengendalian Tanaman, Penyakit dan Hama) Sumbar, Suardi, mengatakan untuk mengendalikan serangan ulat bulu tersebut, langkah pertama harus dengan membersihkan lahan dan tanaman inang yang menjadi tempat berkembangnya. Berdasarkan analisa sementara Laboratorium BPTPH Sumbar, kata Suardi, spesies ulat yang menyerang rumah warga itu adalah Orgia SP.
"Kita akan menganalisa lebih lanjut. Kita juga melibatkan peneliti dari Universitas Andalas Padang untuk mempelajari lebih dalam lagi serangan ulat ini," tukasnya.
Seperti diberitakan, kerumunan ulat bulu berjumlah ribuan menyerang sejumlah rumah warga di kawasan Kubu Dalam, Kelurahan Parak Karakah, Kota Padang, Sumbar sejak 5 hari lalu. Berdasarkan pantauan detikcom, 3 rumah warga di RT 1/ RW 8 Parak Karakah mengalami serangan terparah. Rumah tersebut masing-masing milik Masni, Nurma, dan Arni. Satu Sekolah Dasar (SD) yang letaknya berdekatan dengan tiga rumah tersebut juga tak luput dari serangan.
(yon/fay)










































