PKS Nilai Tak Perlu Survei, Faktanya Popularitas SBY Turun

PKS Nilai Tak Perlu Survei, Faktanya Popularitas SBY Turun

- detikNews
Senin, 27 Jun 2011 10:41 WIB
Jakarta - Penelitian Lingkaran Survei Indonesia (LSI) menunjukkan tingkat kepuasan publik atas kinerja SBY turun. Menurut mitra koalisi SBY, Partai Keadilan Sejahtera (PKS), tak perlu survei pun sudah dapat diketahui popularitas SBY memang turun.

"Terlepas siapa yang bikin survei, kontroversinya, motif politiknya, memang faktanya ada sejumlah kasus yang secara opini publik dan media yang men-downgrade popularitas Presiden SBY," ujar Wasekjen PKS, Mahfudz Siddiq di Gedung DPR, Jakarta, Senin (27/6/2011).

Berbagai kasus yang saat ini ramai diperbincangkan publik, lanjut Mahfudz, tentu berdampak negatif bagi popularitas SBY. Namun ia masih berharap, pemerintah di bawah SBY bisa meningkatkan kinerjanya.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Ini memang suatu warning yang sangat penting bagi pemerintahan untuk memicu kinerja mereka. Karena kan semuanya berharap pemerintahan ini bisa khusnul khotimah," tandasnya.

PKS pun belum berencana untuk melakukan penilaian perlu tidaknya bertahan di koalisi. PKS masih memegang komitmen dengan mitra koalisi.

"Kita tidak mau terjebak, tetap pada posisi awal dan sikap dasar dengan sebaik-baiknya," kata Ketua Dewan Syariah PKS, Surahman, saat dihubungi secara terpisah.

Hasil survei Lingkaran Survei Indonesia (LSI) pada awal Juni 2011 menunjukkan tingkat kepuasan publik atas kinerja Presiden SBY merosot ke angka 47,2 persen. Merosotnya popularitas SBY, hingga di bawah angka 50 persen sejak terpilih dalam Pilpres 2009, ini salah satunya disebabkan oleh kasus Muhammad Nazaruddin.

Survei LSI menunjukkan tingkat kepuasan publik atas kinerja SBY sejak Januari 2011 ke Juni 2011 turun hingga 9,5 persen, yakni dari 56,7 persen ke 47,2 persen. Survei ini dilakukan di lapangan dari tanggal 1 Juni-7 Juni 2011. 1.200 Responden dipilih secara acak yang mewakili 33 provinsi, disurvei dengan metode wawancara tatap muka. Margin of error plus minus 2,9 persen.

(adi/rdf)


Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini