Demikian hasil riset Lingkaran Survei Indonesia (LSI): 'Merosotnya Leadership SBY di Mata Publik' yang dirilis di kantornya, Jl Pemuda, Rawamangun, Jakarta Timur, Minggu (26/6/2011).
Peneliti senior Lingakaran Survei Indonesia (LSI), Sunarto Ciptoharjono, memaparkan, sikap curhat SBY ini antara lain saat ia terlalu reaktif atas SMS yang menyerang pribadinya dari pengirim yang mengaku sebagai Muhammad Nazaruddin, kader Partai Demokrat yang sedang terlilit kasus korupsi.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sikap curhat SBY yang lain adalah saat menyampaikan gajinya sebagai presiden belum naik-naik selama 7 tahun (Januari 2001) dan curhat saat dirinya direpresentasikan sebagai kerbau dalam aksi demo (Februari 2010).
"Ini justru dianggap bukan karakter strong leader," ujar Direktur Lembaga Survei Kebijakan Publik, salah satu jaringan LSI.
Survei ini dilakukan di lapangan dari tanggal 1 Juni - 7 Juni 2011. 1200 responden dipilih secara acak yang mewakili 33 provinsi, disurvei dengan metode wawancara tatap muka. Margin of error plus minus 2,9 persen.
LSI mengaku survei yang dilakukannya tanpa pesanan pihak mana pun. Ada pun pembiayan diambil dari anggaran LSI, yang memang dialokasikan khusus dari hasil profit. "Jadi ini survei independen," ujarnya.
(lrn/ndr)











































