Elsam: Kasus 27 Juli Jadi Senjata Politik Capres
Rabu, 23 Jun 2004 13:17 WIB
Jakarta - Direktur Eksekutif Lembaga Studi dan Advokasi Masyarakat (Elsam) Ifdhal Kasim memprediksi kasus 27 Juli akan tetap gelap dan menjadi senjata politik capres, sebelum dilimpahkan ke pengadilan koneksitas."Berdasarkan hasil pengamatan Elsam, sejak berada di tangan tim koneksitas mulai dari pemberkasan hingga ke persidangannya, sebelum seluruh berkas perkara itu diajukan ke persidangan koneksitas maka kasus ini tetap gelap dan terus akan digunakan sebagai senjata politik capres,".Demikian disampaikan Ifdhal Kasim di Hotel Ibis, Jalan Hasyim Asy'ari, Jakarta Pusat, Rabu (23/6/2004).Kepada para capres, Ifdhal mengimbau tidak perlu khawatir atas pengungkapan kasus 27 Juli."Kami tegaskan anda tidak perlu cemas atas penuntasan kasus ini melalui pengadilan, harus dipahami mengadili pelanggar HAM sangat penting kontribusinya bagi usaha bangsa untuk membagun demokrasi," imbaunya.Ketika ditanya, kemungkinan SBY menjadi tersangka, menurut Ifdhal masih sangat kabur. "Memang sangat kabur. Kasus ini adalah operasi politik yang sangat sulit mendapatkan bukti hukum yang kuat. Misalnya, apakah hadir dalam pertemuan juga dikatakan terlibat. Ini masih diperdebatkan. Apalagi dalam pengadilan yang dicari pertanggungjawaban pidana, sehingga dengan kondisi semacam ini masih terlalu awal untuk meprediksikan perubahan status SBY," ungkap Ifdhal.Dikatakan dia, keterlibatan SBY bisa diketahui setelah semua berkas Kasus 27 Juli dilimpahkan ke pengadilan."Kasus 27 Juli sudah menjadi kepentingan politik para elit, hanya saja tidak jelas siapa yang akan mengambil keuntungan politik dari kasus ini. Karena itu, proses pengadilan harus transparan," demikian Ifdhal.
(aan/)











































