Di dalam sebuah ruangan yang disesaki tempat tidur bertingkat, terlihat sekitar 30 TKI menunggu kabar rencana pemberangkatan dari jasa penyalur mereka, PT Hosana Adi Kreasi, di bilangan Kalisari, Pasar Rebo, Jakarta Timur. Hasrat mereka untuk mengadu nasib, memperbaiki keadaan, begitu tinggi.
Dateng (31), perempuan beranak satu ini tetap bersikukuh dapat terbang ke Arab Saudi. Dia seolah tak pedulu walau pemerintah dan instansi terkait menyepakati penghentian sementara pengiriman TKI ke Arab Saudi.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Bagi Darsem, bukan kali pertama dia bekerja sebagai TKI di negeri orang. Sebelumnya, dia pernah bekerja di Kuwait sebagai pembantu rumah tangga selama 2 tahun dengan pendapatan Rp 1,8 juta per bulan.
Tidak takut akan bernasib sama dengan Ruyati?
"Itu semua tergantung takdir kita. Saya punya majikan waktu itu Alhamdullilah baik," tutur Dateng.
Di tempat sama, Lestari (22) juga berharap pemerintah tidak menghentikan niatnya untuk bekerja di Arab Saudi. "Pengen punya pengalaman di sana," ujar gadis asal Ciasem, Subang ini.
Dia merasa pengalaman bekerja sebagai buruh kontrak pabrik konveksi di tempatnya belumlah memuaskan hasratnya untuk mencari penghasilan lebih di negeri orang.
Bukankah gaji di Arab tidak jauh berbeda dengan di Indonesia?
"Memang enggak jauh beda, tapi pengalaman yang saya cari," sanggahnya sambil tersenyum.
Menurut Kepala Asrama PT Hosana, Lilis (35), terdapat 43 calon TKI yang akan diberangkatkan ke wilayah timur tengah, salah satunya Arab Saudi. Dengan adanya keputusan penghentian sementara pengiriman tenaga kerja ke Arab, pihaknya telah mengkomunikasikan dengan para calon TKI.
"Mereka ditawari negara selain Arab," kata Lilis.
Di tempat itu PT Hosana akan melakukan penampungan sementara. Jika para calon TKI lolos cek fisik, maka mereka akan dikirim ke balai latihan kerja (BLK) rekanan penyalur.
"Kalau tidak lolos cek kesehatan, ya tidak lanjut," kata Lilis.
Baik Lestari atau Dateng, membanting tulang di negeri orang lebih menjanjikan ketimbang di negeri sendiri, meski risiko nyawa sekalipun dipertaruhkan.
"Kita pengennya jangan diberhentiin. Kita mah orang kecil, pingin dapat duit," kata Dateng menutup pembicaraan atas permintaan kepala asrama.
(ahy/gah)










































