"Keunggulan MRT adalah kemampuan dia untuk mengubah tata ruang kota. Bagaimana perkembangan tata ruang itu diarahkan untuk mengikuti koridor MRT," kata pengamat transportasi dari Masyarakat Transportasi Indonesia (MTI) Danang Parikesit.
Hal itu dikatakan dia dalam diskusi "Perbaikan Sistem Angkutan Umum di Jabodetabek Melalui Reformasi Kelembagaan dan Kebijakan" di Stasiun Gambir, Jl Medan Merdeka Timur, Jakarta Pusat, Kamis (23/6/20110).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kalau MRT sudah dibangun tapi wajah kota tata ruangnya masih amburadul pusat pertokoan, mall, dan sebagainya tidak diletakkan di sekitar MRT, percuma. Terlalu mahal kalau tujuannya hanya untuk mengangkut orang," katanya.
Menurut Danang, Pemprov DKI Jakarta bisa meniru MRT di Hongkong, Tokyo, dan Taipei. Dari segi penumpang, MRT di kota-kota tersebut sebenarnya tidak terlalu menguntungkan, karena tetap saja kapasitasnya terbatas. Namun, pengembangan lahan di jalur MRT memberikan profit yang luar biasa.
"Di Hong Kong itu rugi MRT-nya, tapi dia termasuk profitable karena pendapatan dari menyewakan lahan di sekitar stasiun sangat besar. Jadi inovasi seperti ini lah yang kita inginkan dan kemampuan MRT itu bisa," cetusnya.
(irw/gah)











































