Ini Dia Cerita Tentang Kasus Zaenab versi Keluarga

Ini Dia Cerita Tentang Kasus Zaenab versi Keluarga

- detikNews
Kamis, 23 Jun 2011 18:19 WIB
Ini Dia Cerita Tentang Kasus Zaenab versi Keluarga
Bangkalan - TKW asal asal Desa Mertajasah, Bangkalan, Madura, Jatim, Siti Zaenab (42) dituduh membunuh dan terancam hukuman mati. Keluarga mengetahui kabar ini karena sudah lama tak mendengar kabar Zaenab hingga 1,5 tahun lamanya. Namun, keluarga yakin Zaenab tak bersalah.

"Setelah bekerja selama 1,5 tahun, Zaenab berkirim surat ke rumah kalau sudah tidak kerasan dan ingin pulang pada saat Hari Raya Idul Fitri tahun 1998," kata kakak kandung Zaenab, Mohammad Hasan kepada detikcom, Kamis (23/6/2011).

Dalam surat pertama dan terakhir Zaenab tersebut, Hasan menuturkan jika adiknya menulis jika majikan yang diikuti Zaenab makin hari makin galak. "Dia menulis jika sudah tidak betah bekerja di Arab Saudi. Tambah hari, majikannya makin galak," ujar Hasan menirukan isi surat adiknya yang dikirim akhir tahun 1998 tersebut.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Berselang tiga tahun tak kunjung pulang, Hasan pun berupaya mencari adik bungsu dari 7 bersaudara ini. Berbagai cara dilakukan, hingga akhirnya mampu bertemu dengan adiknya di penjara Arab Saudi.

Dalam pertemuan itu, kata Hasan jika adiknya hanya melakukan pembelaan diri terhadap majikannya. "Saat itu mau salat Subuh, dia sedang memasak air tiba-tiba dari belakang majikan perempuannya memukul kepalanya lalu menjambak rambut adiknya yang kemudian dilanjutkan mencekik leher hingga mau mati. Saat mau mati adik saya berusaha meraba-raba hingga menemukan pisau yang langsung ditusukkan ke perut majikannya," jelas Hasan.

Selain itu, Zaenab juga meminta kepada Hasan agar menjaga kedua anaknya hasil pernikahannya bersama seorang TKI di Malaysia sebelum dia berangkat bekerja ke Arab Saudi.

Hasan menyebutkan jika adiknya berangkat setelah melahirkan anak keduanya dan berangkat pada awal tahun 1997 dengan menggunakan jasa PJTKI PT Panca Banyu Aji Sakt yang beralamat di Cilangkap Baru 54 jakarta Timur. "Saya tidak tahu bayar berapa. Tapi biasanya kalau ke Saudi (Arab Saudi) sistemnya potong gaji," ungkapnya.

(ze/mad)


Berita Terkait