"Pemerintah jangan memberikan janji manis," kata Irwan Setiawan (27), anak bungsu Ruyati, Kamis (23/6/2011).
Siaran langsung pidato SBY dan para menteri di Kantor Presiden, juga ditonton oleh keluarga Ruyati di kediaman mereka, Kampung Ceger RT 03/02 Desa Sukadarma, Kecamatan Sukatani, Kabupaten Bekasi. Keluarga Ruyati meminta agar semua omongan panjang lebar para pejabat tinggi itu dibuktikan pelaksanaannya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Irwan menegaskan, kalau pemerintah punya niat baik melindungi TKI, hendaknya segala langkah perlindungan dilakukan dengan cepat. Menurut mereka, sang ibu adalah korban dari carut marutnya lobi dan lemahnya upaya perlindungan TKI.
"Kalau memang punya niat baik, kerjakan dengan cepat. Jangan seperti kasus sebelumnya (Ruyati-red)," kata Irwan.
Sementara itu, Een Nuraeni (35) putri Ruyati dan Ubadawi (60) suami Ruyati yang menderita stroke ringan, juga menonton pidato SBY dan para menteri. Bagi Een dan keluara, harapan mereka adalah janji pemerintah untuk memulangkan jenazah Ruyati.
"Sekarang kita hanya bisa menunggu saja dan berharap kepastian pemerintah untuk memulangkan jasad ibu saya," kata Een.
Keluarga Ruyati pun pagi itu mendapat tamu istimewa yaitu Warni (27). Warni adalah TKI asal Lampung yang menjadi teman Ruyati di Makkah, Arab Saudi. Selama ini, Warni-lah yang selalu memberikan informasi soal kondisi terakhir Ruyati lewat telepon. Inilah pertama kali mereka bertemu muka. Suasana pun berlangsung haru dan penuh isak tangis.
"Selama ini hanya bisa teleponan," kata Warni sambil menangis.
(fay/nrl)










































