"Kenyataannya proses peradilan di Arab Saudi juga tidak transparan," ujar Marty dalam jumpa pers di Kantor Presiden Jl Medan Merdeka Utara, Jakarta Pusat, Kamis (23/6/2011). Dalam jumpa pers ini hadir pula Presiden SBY, Menkumham Patrialis Akbar, dan Menakertrans Muhaimin Iskandar.
Penilaian ini bukan tidak mendasar. Marty menambahkan, ternyata masyarakat internasional juga merasakan hal yang sama.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Tidak bermaksud sebagai pembenaran, Marty mengaku pihaknya selalu mendamping Ruyati selama mengikuti proses persidangan sampai tahap mediator agar diberikannya pengampunan dari pihak ahli waris dan keluarga. Sayang, ahli waris bersikeras tidak memberikan maaf pada TKW asal Bekasi itu.
"Kita selalu sampaikan perkembangan persidangan sejak Februari 2010," jelasnya.
Marty mengaku kecewa dengan sikap pemerintah Arab Saudi yang tidak mengedepakan proses komunikasi sebelum eksekusi dilakukan pada tanggal 18 Juni lalu. Pemerintah mengecam keras dan protes atas tindakan tersebut.
"Protes ini sudah kita lakukan sebanyak dua kali, oleh karena itu kita memanggil Dubes kita untuk kembali dan mempertanyakan kelalaian atas apa yang dilakukan pemerintah Arab Saudi," tandasnya.
(lia/lrn)











































