"Mafianya justru ada di MK," ujar Andi Nurpati saat dihubungi wartawan, Rabu (22/6/2011).
Menurutnya, ia memang memimpin rapat pleno saat penentuan calon DPR dari Dapil I Sulawesi Selatan. Namun, saat itu perwakilan dari MK juga hadir dalam rapat pleno itu. Perwakilan itu tidak protes atas hasil rapat yang memutuskan Dewi Yasin Limpo sebagai calon yang berhak duduk di DPR.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Nurpati mengaku memang mengenal mantan hakim konstitusi Arsyad Sanusi termasuk dengan Juru Panggil MK, Mashuri Hasan. Namun Andi mengaku tidak mengenal putri Arsyad, Neshawati.
"Pak Arsyad kita kenal, kenal biasa. Hasan kenal di MK. Karena saya memang intens dengan MK. Pak Putu (I Gusti Putu Artha, anggota KPU-red) dengan saya yang intens datang ke MK. Tapi kalau Nesha, saya malah baru dengar dari media," terangnya.
Nurpati yang saat ini menjabat sebagai Ketua Divisi Komunikasi Publik DPP Partai Demokrat ini menyatakan siap memenuhi panggilan Panja Mafia Pemilu Komisi II DPR. Dia akan memberikan penjelasan surat tertanggal 14 Agustus 2009 lalu itu.
"Pleno yang saya pimpin pakai surat tanggal 14 Agustus yang katanya palsu. Tapi, saya tidak pernah menerima dan membuka surat palsu yang dikirimkan MK tanggal 14 itu, sampai Rapat Pleno dilangsungkan," imbuhnya.
(her/lrn)











































