"Sedikit sekali (manfaatnya). Praktis tidak ada artinya karena belum pernah Indonesia menangkap kembali orang yang dicarinya berdasarkan red notice. Nunun sebagai orang yang dicari di 170 negara tidak ada artinya," kata orang Golkar yang concern pada masalah Nunun ini.
Hal ini disampaikan Fahmi sebelum acara peluncuran buku berjudul "Bercermin di Layar, Realita Antar Cerita" di Hotel Crowne Plaza, Jalan Gatot Subroto, Jakarta Selatan, Rabu (22/6/2011).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Jangankan menangkap, untuk mengetahui secara persis saja kurang. KPK belum serius melakukan langkah-langkah untuk mendeteksi, apalagi menangkap Nunun. Terakhir dikatakan Nunun tidak berada di Kamboja, tetapi di Thailand. Namun itu berdasarkan berita, fakta atau dugaan?" gugatnya.
Fahmi mengatakan, KPK tidak perlu diajari untuk melakukan langkah-langkah serius. "Di KPK itu banyak polisi. Polisi tahu bagaimana mencari orang," ujarnya.
Fahmi juga menyentil sikap suami Nunun, Komjen Purn Adang Daradjatun yang bersikeras tidak memberitahukan posisi sang istri.
"Sangat disayangkan orang seperti Pak Adang apalagi ia mantan Wakapolri dan juga anggota DPR. Kita kan tahu anggota DPR macam-macam kelakukannya. Nah ini merupakan salah satu yang macam-macam yang tidak terpuji," kritiknya.
(aan/nrl)











































