Secara kasat mata, kesuksesannya dapat dilihat dari lonjakan status ekonomi keluarganya di Sukatani, Bekasi. Uang hasil jerih payahnya di luar negeri, Ruyati wujudkan dalam sebentuk rumah permanen warna merah mudah dengan lahan yang cukup luas di tepi jalan raya, mobil angkutan kota dan pendidikan tinggi bagi anak-anaknya.
"Ibu nekat terus jadi TKI sebab ingin anak-anaknya bisa kuliah. Saya dibelikan mobil angkot dari hasil Ibu bekerja di Arab," ujar Irwan (27), putra bungsu Ruyati.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Waktu masih gadis, kami sama-sama kuli tanam padi di sawah. Orangnya baik, anak-anaknya juga baik. Saya nggak yakin Ruyati membunuh majikannya, dia sudah lama jadi TKI kok," kenang Ani.
Abu Dhabi merupakan negara pertama di Timur Tengah yang disinggahi oleh Ruyati sebagai TKW. Baru pada 2002, Ruyati bekerja di Arab Saudi hingga 2007. Setahun kemudian, Ruyati kembali mendaftarkan diri sebagai TKW untuk ditempatkan di Makkah, Arab Saudi.
"Kami semua sudah melarang, karena ibu umurnya juga sudah tua dan anak-anak juga sudah cukuplah. Tapi tahu-tahu Ibu sudah naik kapal, saya tahu belakangan umurnya dikurangi," papar Irwan.
Lebih lanjut Irwan berharap jenazah ibunya dapat dimakamkan di kampung halaman. Sayangnya hingga saat ini, belum ada kejelasan mengenai pemulangan jenazah ke Indonesia.
"Belum ada konfirmasi dari pemerintah," ujar Irwan.
Meski belum ada kepastian jadwal pemulangan jenazah, kediaman Ruyati di Kampung Ceger, RT 3/2, Sukatani, Bekasi, Jawa Barat, sudah dipenuhi oleh kerabat dan teman-teman lama. Semuanya mengaku tidak percaya bahwa Ruyati melakukan pembunuhan.
Sejumlah polisi juga tampak berjaga di rumah duka. Mereka mengatur agar barisan kendaraan bermotor milik pelayat tidak sampai meluber ke badan jalan raya sehingga membuat kemacetan panjang.
(lh/nrl)











































