Ya, itulah gambaran kawasan Kesennuma dan Sendai di provinsi Miyagi, Jepang. Rombongan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) dan Ibu Negara Ani Yudhoyono meninjau langsung lokasi ini. Keduanya juga sempat menyerahan bantuan senilai US$ 2 juta kepada pengungsi.
Meski bencana itu sudah berlalu tiga bulan lamanya, kondisi di kawasan ini belum sepenuhnya normal. Transportasi umum belum berjalan. Khususnya kereta karena rel yang biasa digunakan masih tertimpa puing-puing bangunan dan kendaraan.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sebuah tanki besar masih tergeletak di jalanan. Bahkan sebuah kapal tanker besar pun belum terusik dari lokasi yang jauh dari lautan. Mobil yang nyangkut di perumahan warga juga masih ada. Kondisi ini diperparah oleh bau amis yang sangat menusuk hidung. Tak jarang warga masih ada yang memakai masker saat berpergian.
Namun, kondisi di atas tak membuat warga frustrasi. Petugas kebersihan terus memnyingkirkan puing-puing. Tak ada lagi air mata dan kesedihan. Yang ada hanya perjuangan untuk membuat hidup lebih baik.
Walikota Kesennuma, Shigeru Sagawara, mengatakan warganya tak pernah menyerah. Bantuan yang ada dari pemerintah dimanfaatkan dengan baik. Tak heran, tiga bulan setelah bencana, 150 rumah hunian sementara sudah tersedia plus semua fasilitas penunjangnya.
Ke depan, bakal dibangun lagi 70 ribu rumah serupa di Miyagi dan Fukushima. Diharapkan, tak ada lagi pengungsi yang tinggal di gedung olahraga atau penampungan lainnya.
"Kami akan terus berjuang membenahi kota ini," kata Sagawara saat menyampaikan sambutan di hadapan presiden SBY dan Ibu Negara.
(mad/adi)











































