"Ia mengeluhkan sakit pada sekujur tubuhnya, badannya lemas, buang air terasa sangat sakit, dan jika malam terkena demam. Bicaranya lirih sekali, sulit untuk didengarkan. Kami sedang mengupayakan second opinion atas penyakitnya untuk pengobatan yang lebih baik," ujar Nurkhoiron dalam rilisnya pada detikcom, usai mengunjungi Saidi, di Pangkep, Sulawesi Selatan, Sabtu (18/6).
Menurut Nurkhoiron, Saidi ingin sembuh dari sakitnya, karena ia belum dapat mewariskan kemampuan menghafal naskah sepanjang lima ribu halaman itu kepada generasi muda di lingkungannya. Apalagi, gubernur dan wakil gubernur Sulawesi Selatan menyemangatinya untuk sembuh.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sureq (surat) I Lagaligo, naskah kuno milik suku Bugis, telah diakui dunia sebagai karya sastra terpanjang yang pernah ada. Sejak ditemukanya pada abad 12, selama berabad-abad naskah itu juga dilestarikan dengan disyairkan serta dipanggungkan oleh Komunitas Bissu, sebuah komunitas spiritual pemegang teguh adat Bugis kuno dan penghafal I Lagaligo. Namun kini, keberadaan para pelestari I Lagaligo itu hampir punah.
Beberapa bagian naskah I Lagaligo bercerita mengenai bencana alam. Naskah itu juga bercerita tentang proses penciptaan dunia dan sejarah konflik umat manusia.
I Lagaligo saat ini menjadi salah satu bahan kajian yang paling menarik dalam studi sastra, budaya, dan agama di universitas-universitas Barat. Beberapa tahun lalu, epik yang lebih panjang dari Ramayana maupun Mahabarata ini dipentaskan keliling dunia oleh sebuah grup teater asing.
Kantor Staf Khusus Presiden RI Bidang Bantuan Sosial dan Bencana yang sedang melakukan kajian terhadap bencana purba, tertarik untuk mendapatkan tafsiran atas kisah-kisah bencana alam dalam naskah tersebut.
"Kesembuhan Saidi penting artinya, bukan hanya bagi Sulawesi Selatan dan Indonesia, tapi juga dunia. Kami akan berkoordinasi dengan pemerintah provinsi dan kabupaten untuk memfasilitasi penanganan yang lebih baik," tutur Nurkhoiron.
Puang Matoa Saidi kini membujur lemah di rumahnya, di Pangkep, Sulawesi Selatan, setelah lebih dari tiga bulan menjalani rawat inap di Rumah Sakit Labuang Baji, Makassar. Ia dinyatakan menderita typhus, namun Saidi merasa tidak ada perubahan pada sakitnya selama tiga bulan menjalani pengobatan.
(nik/gah)











































