Hal itu disampaikan Kuasa Usaha Ad-interim KBRI Den Haag Umar Hadi saat membuka diskusi The Dynamics of Indonesian Diaspora in the Netherlands di Ruang Nusantara KBRI Den Haag (16/6/2011).
Diskusi diinisiasi oleh KBRI Den Haag untuk memahami dan membina komunikasi lebih baik lagi dengan diaspora Indonesia di Negeri Belanda.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Umar menegaskan bahwa forum diskusi hanya merupakan langkah awal dalam upaya membangun komunikasi dan jaringan diaspora Indonesia di Negeri Belanda dan diharapkan memberikan energi positif bagi upaya-upaya terkait di masa mendatang.
"Untuk itu, komunitas diaspora juga diundang untuk berpartisipasi dalam berbagai kegiatan lainnya, antara lain di bidang olahraga, musik dan kuliner," demikian Umar.
Diskusi diikuti oleh sejumlah pakar antropologi sosial, community development, tokoh-tokoh diaspora Indonesia lintas etnis di Negeri Belanda, perwakilan LSM diaspora, dan jajaran KBRI Den Haag.
Secara terpisah Minister Counsellor Laro Simbolon kepada detikcom mengatakan bahwa kegiatan ini selain ditujukan untuk membangun solidaritas dan kebersamaan antara diaspora Indonesia lintas etnis di Negeri Belanda, juga sebagai sarana melakukan reach-out kepada komunitas Maluku.
"Khususnya kalangan intelektual dan independen di luar komunitas yang selama ini sudah menjadi bagian dari traditional friends of Indonesia atau bahkan mengidentifikasi diri sebagai bagian dari Indonesia," terang Lasro.
Bangun Konektivitas
Ketua Asosiasi Intelektual Maluku di Negeri Belanda Dr. Elias Rinsampessy sebagai pembicara menyampaikan bahwa dari diaspora etnik Maluku saja di Negeri Belanda telah berkembang selama lima generasi dan saat ini jumlahnya mencapai lebih dari 50.000 orang.
"Perlu terus dibangun konektivitas antara komunitas Maluku di Negeri Belanda dengan masyarakat Maluku di Indonesia, terutama melalui instrumen sosial kebudayaan," ujar Elias, yang juga Ketua Yayasan Muhabbat dan dosen pada Universitas Leeuwarden.
Lanjut Elias, kalangan generasi ke-3 dan ke-4 komunitas Maluku memiliki pemikiran lebih terbuka dengan potensi sosial-ekonomi dan budaya sangat besar, tapi belum dimanfaatkan secara maksimal.
Generasi muda komunitas Maluku cenderung lebih individualis dan lebih independen dibanding generasi pertama dan kedua. Meskipun terdapat perbedaan latar belakang historis dan budaya antar-generasi, namun identitas etnis Maluku masih tetap melekat.
"Sense of identity serta kerinduan untuk berbuat sesuatu yang positif di Indonesia, khususnya Maluku sebagai kampung halaman masih kuat. Semangat dan kerinduan tersebut perlu terus didukung dan didampingi, termasuk oleh KBRI," papar Elias.
Dikatakan bahwa berbagai kegiatan seperti forum diskusi dan prakarsa sosial budaya tiap-tiap komunitas Indonesia dari Maluku dan daerah lainnya secara umum perlu terus dilakukan di Negeri Belanda.
"Penyelenggaraan Pasar Malam Indonesia di Denhaag oleh KBRI merupakan salah satu cara yang baik," pungkas Elias.
Dari diskusi ini tampak ada kesamaan pandangan diantara seluruh peserta bahwa saat ini merupakan momentum tepat untuk membangun kontak di antara komunitas diaspora Indonesia.
Melalui kontak dan komunikasi yang baik, dapat dihasilkan pandangan yang sama untuk dikembangkan menjadi kegiatan konkrit dan bermanfaat bagi semua pihak.
Selain itu juga dihimpun berbagai masukan berharga untuk membangun kapasitas diaspora Indonesia di Negeri Belanda sekaligus mengeksplorasi kegiatan yang pas menyalurkan kerinduan dan kepedulian kepada tanah air.
(es/es)











































