Aksi ini digelar di Kompleks Kampus UGM, Sleman, Yogyakarta, Kamis (16/6/2011). Namun para pendemo tidak sempat bertemu Boediono. Rombongan Boediono tiba di gedung Graha Sabha Pramana (GSP) tidak melalui pintu masuk utama tapi melalui Bundaran dan Boulevard UGM di Jl Pancasila.
Rombongan Boediono berjalan dari Lanud Adisutjipto masuk melalui Ringroad Utara, Jl Kaliurang. Kemudian masuk melalui simpang empat Pusat Kebudayaan Koesnadi Hardjasoemantri atau eks Purnabudaya.
Massa juga tidak dapat memasuki kawasan GSP UGM karena penjagaan ketat dan berlapis dari anggota TNI/Polri dan satpam kampus.
Kelompok mahasiswa yang melakukan aksi diantaranya dari anggota Badan Eksekutif Mahasiswa Keluarga Mahasiswa (BEM KM) UGM dan anggota Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia (KAMMI) DIY.
Massa melakukan aksi secara bergantian di Bundaran UGM. Aksi yang pertama dilakukan oleh anggota BEM KM UGM. Mereka menyambut kedatangan guru besar Fakultas Ekonomi itu dengan aksi teatrikal.
Dua orang mahasiswa berperan sebagai Presiden SBY dan Wapres Boediono. Mereka juga membawa spanduk bertuliskan "Sugeng Rawuh Pak Boed, Jangan Lupa BLBI, Century dan 12 Inpres Pemberantasan Mafia Pajak".
Sedangkan aksi kedua digelar oleh massa KAMMI DIY. Dalam orasinya koordinator aksi Aza El Munadiyan menyatakan pemerintahan SBY gagal melakukan pemberantasan korupsi. Pihaknya menuntut SBY untuk memberantas korupsi tanpa pandang bulu.
"Kami juga mendukung penetapan terhadap jabatan gubernur dan wakil gubernur DIY dan menuntut agar RUUK DIY segera disahkan," kata Aza.
Meski jumlah aparat keamanan tiga kali lipat dari peserta aksi, mereka tidak melakukan pengawasan ketat terhadap mahasiswa. Ratusan polisi hanya berjaga-jaga di sekitar Boulevard UGM. Peserta aksi juga tidak bisa bertemu langsung dengan Boediono. Tak lama rombongan Boediono pun meninggalkan lokasi melalui pintu yang sama saat masuk.
(bgs/gus)











































