Aksi akan dilakukan pada Kamis (16/6/2011) pukul 17.00 WIB hingga pukul 18.00 WIB. Ada 3 tuntutan yang akan mereka suarakan.
Pertama, meminta SPM dipenuhi. "Selama pelayanan buruk tidak pantas naik tarif, buruk sekali. SPM yang ringan sekali, mudah dan murah dilakukan, seperti melengkapi fasilitas kesehatan, P3K di stasiun, itu kan tidak perlu subsidi, kenapa tidak dilakukan juga. Kita tidak bicara mengenai pelayanan yang besar, yang kecil-kecil saja nggak bisa dilakukan," ujar humas KRL Mania, Agam saat berbincang dengan detikcom hari ini.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kalau kita sudah naik (kereta), di depan ada kereta mogok, penumpang diam saja, penumpang dibiarkan bingung. Itu bukan sesuatu yang canggih. Bukan ilmu membuat roket, hanya perlu SOP untuk menginformasikan gangguan perjalanan. Hal-hal kecil seperti ini kenapa tidak dianggap sesuatu yang penting," sambungnya.
Tuntutan kedua adalah meminta tarif dan jadwal yang adil dan sesuai kebutuhan. Untuk tarif, KRL Mania memandang kenaikan tarif tidak adil.
"Ini kan 70 persen naik (dari tarif KRL AC Ekonomi), flat rate. Nah ini kita lihat tidak adil karena penumpang KRL juga berkontribusi mengurangi kemacetan, ini kenapa malah dipenalti," jelas Agam yang juga pengguna KRL Serpong-Sudirman ini.
Agam mengatakan, PT KAI Commuter Jabodetabek (KCJ) akan merencanakan alat tiket canggih, tapping seperti di luar negeri. "Sudah pakai sistem canggih tapi masih flat rate. Dari Kebayoran-Tanah Abang bayarnya sama dengan Serpong-Manggarai. Di Malaysia saja tarif berdasarkan jarak, sehingga yang jarak pendek tertarik untuk naik, bukan flat rate," tuturnya.
Dia juga mengeluhkan jadwal yang bertambah kacau. Agam mencontohkan jalur Bogor-Tanah Abang/Kota yang semula ada 32 perjalanan, jadwal yang baru hanya 29 perjalanan. Dari 29 perjalanan itu, 9 di antaranya jadwal KRL Ekonomi.
"Sekarang ada 13 kali perjalanan pada jam sibuk, pukul 05.00-08.00 WIB, nantinya cuma 9 perjalanan. Padahal sekarang saja Ekonomi panas. Mogok 1 saja, terjadi kekacauan, padatnya luar biasa, apalagi dikurangi 4. PT KAI dan PT KCJ tidak melihat benar masalah jadwal ini," jelasnya.
Ketiga, meminta pemerintah untuk mendukung angkutan massa berbasis rel. "Bus TransJ saja disubsidi, ini KRL Jabodetabek yang diharapkan menjadi back bone (transportasi) mengurangi kemacetan, subsidinya justru dikurangi," tutur Agam.
KRL Mania pun sudah berdialog dengan PT KCJ dan PT KAI pada Rabu 1 Juni 2011 dan Kamis 9 Juni 2011 lalu dan menyerahkan beberapa rekomendasi. KRL Mania juga akan bekerja sama dengan Bumi Serpong Damai (BSD) Society untuk memberikan contoh konkret mengenai SPM.
"Kami akan menempelkan stiker priority seat di semua kursi. Ini akan segera dilakukan, cuma perlu bayar cetak stiker, tidak akan keluar duit jutaan rupiah, ini contoh kecil yang murah dan mudah, tidak bisa mereka lakukan," terang Agam.
(nwk/nvt)










































