Bali meraih prestasi membanggakan karena menyabet seluruh juara UN SMA, dari peringkat I hingga III. Empat siswi SMA Negeri 4 Denpasar memborong seluruh peringkat terbaik tersebut.
Juara pertama 'kembar' diraih dua siswi Ni Putu Maitri Nara Suari dan Anak Agung Indah Suadnyani dengan memperoleh total nilai yang sama yaitu 59,00. Peringkat kedua Luh Gede Ayu Putri Vebriany dengan nilai 58,9 dan juara ketiga Made Cindy Widya Murthi.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Gadis kelahiran 9 Februari 1993 ini telah berprestasi sejak duduk di bangkus SD dengan meraih juara cerdas cermat. Prestasinya semakin bertambah ketika SMP.
Hobinya menulis karya ilmiah menghantarkannya sebagai juara penulisan ilmiah. Di tingkat SMP, ia meraih predikat 10 besar penulisan ilmiah tingkat nasional. Dia lantas menempuh pendidikan di SMA Negeri 4 Denpasar, yang merupakan sekolah favorit di Denpasar.
"Saya mendapat juara I lomba penulisan ilmiah di sekolah ini sehingga diterima tanpa mengikuti tes lagi," kata Putu Maitri.
SMA Negeri 4 Denpasar, salah satu sekolah unggulan yang sangat ketat dan disiplin dalam memberikan materi pembelajaran kepada siswanya. Siswa hampir beraktivitas selama sehari sejak pukul 08.00 wita hingga 18.00 wita. Suasana belajarnya sangat kondusif bagi siswa-siswi yang menghabiskan sebagian waktunya di sekolah.
Untuk meraih predikat sebagai jawara UN Nasional, selain insentif belajar di sekolah, Putu Maitri mulai aktif mengikuti program bimbingan belajar di Ganesha Operation, Denpasar sejak kelas III. Program menghadapi UN pun telah dilahapnya sejak duduk di kelas I.
"Di sekolah, pada pagi hari belajar konsep. Sore hari belajar latihan soal yang telah disusun dengan standar kelulusan UN," kata Maitri.
Namun, gadis berambut panjang dengan kacamata tipis ini tak hanya berprestasi di bidang akademis. Ia juga aktif di berbagai kegiatan sosial yang melibatkan anak-anak muda di Bali. Dengan berbagai aktivitasnya memperjuangkan hak anak-anak, ia dipercaya sebagai Duta Anak Bali pada tahun 2009.
"Saya pernah mewakili Bali pada kongres anak Indonesia di Jakarta," kata Maitri.
Bahkan, UNICEF dan Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Linda Gumelar menunjukkan sebagai duta Perempuan Muda Indonesia. Linda Gumelar pun mengajaknya pergi ke Shanghai, Cina pada Oktober 2010 untuk ikut menghadiri konferensi perempuan.
"Saya senang dan bersyukur diberi kesempatan mewakili anak-anak Bali dan Indonesia di konferensi itu untuk berbagi inspirasi," kata Maitri.
Bersama aktivis pelajar lainnya, Putu Maitri menggelar Mimbar Anak Bali yang bertujuan menyerukan suara dan hak anak-anak Bali. Ia menyerukan larangan iklan rokok untuk memenuhi hak anak yang membutuhkan lingkungan yang sehat. Ia juga ikut menggelar aksi damai mendukung kawasan bebas rokok, seperti sekolah, rumah sakit dan tempat ibadah.
Gadis anak bungsu dari tiga bersaudara ini juga aktif menyerukan kepada pemerintah untuk menyediakan alat-alat komunikasi, seperti komputer dan jaringan telekomunikasi di daerah-daerah terpencil. "Anak-anak yang termarginalkan juga sangat membutuhkan bisa berkomunikasi dengan menggunakan fasilitas internet. Kita bisa berbagi informasi kepada mereka," katanya.
Putu Maitri yang malu-malu mengaku telah memiliki pacar ini juga aktif menyuarakan hak-hak anak di dunia maya melalui akun fadbali.wordpress.com sejak 2010. "Saya memberikan dan membagikan informasi tentang hak-hak anak, seperti hak bermain, hak mendapatkan akta kelahiran dan membagikan informasi Undang-Undang tentang perlindungan anak," ujarnya bersemangat.
Kini, dengan nilai tertinggi UN, Maitri telah diterima menempuh pendidikan tingggi di Program Pendidikan Akutansi BCA di Jakarta. Ia tertarik menekuni dunia perbankan. "Saya telah menantapkan diri sekolah di sana meskipun ada tawaran beasiswa dari Universitas Udayana Denpasar," katanya.
Gadis yang mengidolakan Kak Seto ini pun bercita-cita ingin mendirikan sekolah gratis atau membuat panti asuhan yang diperuntukan bagi anak-anak tak mampu.
(gds/fay)











































