"Tren penurunan kasus dan jumlah korban meninggal akibat DBD memperlihatkan keberhasilan semua pihak baik Pemerintah Provinsi DKI Jakarta maupun masyarakat," ujar Kepala Dinas Kesehatan Provinsi DKI Jakarta, Dien Emmawati, dalam rilisnya yang diterima wartawan di Jakarta, Rabu (15/6/2011).
Dien menambahkan, penurunan ini jauh lebih baik dari tahun sebelumnya. Indikator penurunan tersebut dapat dilihat dari angka kematian akibat DBD yang hingga awal Juni 2011 ini masih nihil.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Berdasarkan data yang dimiliki Dinas Kesehatan Provinsi DKI Jakarta, sepanjang tahun 2007 sampai tahun 2010 jumlah pasien DBD di Ibukota mengalami penurunan sebanyak 60,5 persen. Jika pada tahun 2007 jumlah pasien akibat DBD mencapai 31.836 kasus, maka di tahun 2010 menurun menjadi 12.639 tahun 2010. Sedangkan sampai Mei 2011 ini, baru ditemukan 3.597 kasus DBD.
"Untuk jumlah yang meninggalkan akibat kasus juga menurun, kalau pada tahun 2007 ada 87 orang, tahun 2010 lalu hanya 33 orang. Meskipun sebenarnya kita harap tidak ada angka kematian tentunya," beber Dien.
Walaupun adanya angka penurunan, Dinkes DKI berjanji akan tetap waspada. Dinkes akan terus memerangi kasus DBD ini, atau paling tidak terus menekan jumlah kasus yang terjadi.
"Pemprov DKI Jakarta terus menggerakkan peran serta masyarakat dalam memerangi DBD. Hingga saat ini telah ada 31.407 petugas Jumantik dari unsur masyarakat di seluruh Jakarta," janji Dien.
Berdasarkan Incidence Rate (IR) secara nasional, Provinsi DKI Jakarta berada di peringkat ke-2 setelah provinsi Bali. Pada tahun 2010, jumlah kasus dengan IR sebesar 202,4 per 100.000 penduduk. Angka ini masih lebih tinggi dari target yang ditentukan yakni kurang dari 150 per 100.000.
(lia/vit)










































