"Menurut penuturan para TKW, situasi di Libya semakin mencekam. Sehari-hari mereka merasakan ketakutan yang sangat. Beberapa di antara mereka mogok makan dan bahkan mengancam bunuh diri agar majikan mau menyerahkan mereka ke KBRI," kata staf KBRI Tunis, M Yazid, dalam rilis yang diterima detikcom, Rabu (15/6/2011).
Yazid mengatakan, serangan NATO di Libya semakin gencar dan pemboman pada serangan-serangan yang sebelumnya dilakukan pada malam hari, kini tidak memilih waktu lagi. Sebelumnya pemboman bisa terjadi 6-7 kali dalam sehari, namun kini tak kurang dari 20 kali pemboman terjadi setiap hari.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kondisi keamanan di daerah-daerah kawasan barat Libya yang biasa dilalui para TKW jika ingin menyelamatkan diri ke Tunisia melalui pintu perbatasan Ras Jedir, kini semakin tidak menentu," kata Yazid.
Menurut Yazid, para TKW gelisah dengan makin memburuknya situasi di negara kaya minyak tersebut. Salah seorang TKW yang ditanyainya, bernama Armah Arkad, bercerita sambil menangis membayangkan keadaan di Libya yang sangat mencekam dan ketakutannya teerhadap pemboman-pemboman yang semakin gencar.
Namun, majikan para TKW tersebut tetap menahan agar mereka tidak keluar dari Libya dan pulang ke Indonesia. Rata-rata para majikan itu berjanji akan menaikkan gaji sebanyak 2 kali lipat atau sampai 500 dollar Libya agar mau tinggal. Namun, iming-iming tersebut langsung ditolak.
"Aminah BT Sakri Kasa lain lagi, dia meminta dilepas pulang selain karena situasi konlik juga karena ibunya sakit berat, namun majikan tetap menahan. Setelah sebulan diproses majikan akhirnya melepas, namun ibu dari TKW yang bersangkutan telah meninggal dunia hanya beberapa hari sebelum dievakuasi," ungkapnya.
Yazid mengungkapkan, pada 12 Juni 2011 lalu, KBRI Tunis kembali berhasil mengevakuasi 10 orang Tenaga Kerja Wanita (TKW) Indonesia dari Libya. Kesepuluh TKW tersebut adalah Taniri Jaya (37, Indramayu), Saprah BT Sapali Jeni (31, Serang), Kaeni BT Darno Kastam (27, Indramayu), Aminah BT Sakri Kasa (35, Indramayu), Armah Arkad, (53, Serang), Sumiati BT Tami Kurdi (35, Sukabumi), Usriyah Ridwan (26, Indramayu), Anisah (37, Subang), Fatmawati (34, Subang) dan Narsih Acam (30, Serang).
"Seperti beberapa kali evakuasi terakhir, para TKW tersebut diantar sendiri oleh Muhammad Abdelhafiz, pemilik gedung KBRI Tripoli, karena saat ini susah mendapatkan sopir yang mau melakukan evakuasi orang asing dari Tripoli ke perbatasan Tunisia," katanya.
Rombongan tersebut disambut langsung oleh Dubes RI Tunis, Muhammad Ibnu Said, di pintu perbatasan Ras Jedir. Kesepuluh TKW kemudian diinapkan semalam di posko perbatasan KBRI Tunis di Kota Jerba, sebelum diberangkatkan ke Tunis hari Senin, 13 Juni.
Dengan tibanya 10 TKW tersebut di Tunisia, maka terhitung sejak tutupnya KBRI Tripoli ditutup tanggal 27 Maret 2011, KBRI Tunis telah mengevakuasi 71 WNI. Ketika KBRI Tripoli ditutup hanya terdapat sekitar 49 WNI yang berhasil dideteksi, namun angka tersebut terus bertambah karena TKW yang berada di Libya umumnya berstatus ilegal dan tidak tercatat di KBRI Tripoli.
(irw/rdf)











































