15 Kabupaten di Jateng Telah Kekeringan Sejak April
Selasa, 22 Jun 2004 13:49 WIB
Solo -
Di tengah sibuknya pilpres, bahaya musim kemarau musim kemarau mengancam. Musim kemarau telah menyebabkan beberapa daerah di Jawa mengalami krisis air. Untuk Jawa Tengah misalnya, 15 kabupaten telah mengalami kekeringan sejak April lalu. Sedangkan antisipasi kekeringan untuk menekan risiko serta peningkatan kualitas hasil pertanian masih dianggap parsial dan berorientasi proyek.Hal tersebut mengemuka dalam semiloka bertema "Antisipasi dan Solusi Mengatasi Kekeringan di Jawa Tengah" yang diselenggarakan oleh Indonesia Forum on Globalization (INFOG), di Solo, Selasa (22/6/2004).Staf Dinas Pengelolaan Sumberdaya Air Jawa Tengah, Suharno mengatakan, hingga awal bulan Juni 2004 ini kondisi volume air waduk di Jawa Tengah dari 37 buah waduk yang ada di Jateng empat diantaranya telah kosong. Sedangkan 15 kawasan di 15 kabupaten telah mengalami kekeringan sejak bulan April lalu.Kelimabelas daerah itu adalah Rembang, Pati, Blora, Boyolali, Sragen, Karanganyar, Klaten, Sukoharjo, Wonogiri, Brebes, Tegal bagian utara, Pemalang utara, Pekalongan utara dan Batang utara, dan Grobogan bagian timur.Sedangkan yang mulai dilanda kekeringan sejak Mei adalah Brebes bagian selatan, Cilacap, Banyumas, Banjarnegara selatan, Kebumen, Purworejo, Magelang, Temanggung selatan, Semarang, Grobogan barat, Demak, Kudus barat, Jepara, Kota Semarang utara, dan Kendal bagian utara.Dalam acara yang sama Kepala Balai Penelitian Agroklimat dan Hidrologi Gatot Irianto menyayangkan antisipasi persoalan kekeringan yang masih terkesan parsial dan berorientasi proyek, terutama dalam upaya menekan resiko pertanian dan peningkatan kualitas hasil pertanian.Selain tidak tepat waktu, sasaran dan dampak dari pendekatan itu tidak menyelesaikan esensi permasalahan serta cenderung memboroskan tenaga, waktu dan dana. Seharusnya, kata Gatot, pemberdayaan petani melalui penyediaan informasi kekeringan, pasar komoditas dan bantuan dalam panenhujan dan aliran permukaan (rainfall and runoff harvesting) segera dilakukan."Peningkatan kemampuan deteksi dini kekeringan, penyediaan sistem informasi dalam bentuk alat bantu pengambilan keputusan dalam pengelolaan sumberdaya sangat penting dilakukan agar adaptasi dan antisipasi kekeringan dapat dioptimalkan. Selama ini petani kita sering tidak berdaya karena keterbatasan akses, kontrol dan informasi itu," kata Gatot."Bisa juga dibuatkan semacam pilot project penanggulangan kekeringan agar masyarakat dapat melihat contoh langsung cara melakukan adaptasi dan antisipasi kekeringan di lapangan," lanjutnya.
(nrl/)










































