"Kejujuran itu senjata yang paling ampuh untuk melawan korupsi dan kita seharusnya memiliki kejujuran itu. Nah, inilah nilai-nilai yang kita warisi sebagai manusia dari pendahulu kita, para nabi, seperti Nabi Muhammad basisnya kejujuran, semua agama juga mengajarkan kejujuran," ujar aktivis antikorupsi yang juga Ketua Dewan Pengurus Transparency International Indonesia (TII) Todung Mulya Lubis ketika berbincang dengan detikcom, Rabu (15/6/2011).
Todung tersentak ketika mengetahui bahwa guru sekolah di satu SD di Surabaya meminta pada siswanya untuk memberikan contekan supaya semua siswanya lulus. Dalam sistem pendidikan yang ada sekarang, pikiran untuk meluluskan semua siswa itu tidak salah. Namun menyuruh untuk mencontek untuk lulus, sama saja menyemai bibit koruptor di sekolah.
Β
"Tidak boleh meluluskan siswa dengan membolehkan mencontek jawaban siswa yang lain. Nah kita sudah menyemai benih-benih korupsi karena masyarakat yang bersangkutan tidak jujur. Sama saja dengan kamu bisa menjadi kaya dengan mendapatkan hak orang lain, kamu bisa jadi pintar jika ada orang lain yang memberikan contekan," tegas Todung.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Hal itu terjadi di lingkungan sekolah pada ujian akhir nasional. Tapi kita memberikan pembenaran terhadap ketidakjujuran, kita juga menanam benih-benih untuk korupsi di masa depan. Dia (Siami) menunjukkan masyarakat Indonesia sedang sakit nilai, diajarkan untuk nyontek, nyolong. Kalau mengeluh korupsi begitu sistemik, endemik di Indonesia, karena nilai-nilai kejujuran sudah ditinggalkan," jelas Todung.
(nwk/nrl)











































