Bayi Tanpa Mulut & Hidung di Magelang Makin Memprihatinkan

Bayi Tanpa Mulut & Hidung di Magelang Makin Memprihatinkan

- detikNews
Selasa, 14 Jun 2011 16:41 WIB
Bayi Tanpa Mulut & Hidung di Magelang Makin Memprihatinkan
Magelang - Masih ingat Istikomah? Balita asal Magelang yang berumur empat bulan ini, lahir tanpa rongga mulut dan hidung. Kondisinya kini semakin memprihatinkan dan membutuhkan bantuan.

Bayi penderita Labio Palato Skisis (kelainan bentuk struktur wajah) ini adalah warga Candigelo RT 02/ RW V Desa Ngadipuro, Kecamatan Dukun, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah. Orangtua Istikomah, Wahid Widodo (33) dan Maonah (30), mengakui mereka kesulitan biaya rekonstruksi wajah Istikomah.

Surat dari orangtua Istikomah beserta aparat desa dan Pemkab Magelang sudah dikirim ke Pusat Pembiayaan Jaminan Kesehatan (P2JK) Kementerian Kesehatan pada 28 April 2011. Namun, sampai saat ini tidak mendapatkan jawaban.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Sampai saat ini belum ada kepastian kapan Istikomah akan dioperasi. Padahal kita sebulan yang lalu sudah mengirimkan surat ke Kemenkes, namun sampai sekarang belum mendapatkan jawaban," kata Wahid dalam perbincangan dengan detikcom, Selasa (14/6/2011) di kediaman mereka yang hanya berjarak 15 km dari puncak Merapi ini.

Wahid mengatakan, setiap harinya sejak lahir, Istikomah hanya disuapi susu formula karena tidak punya rongga mulut dan hidung. Apalagi kini kedua matanya terutup semacam selaput. Setelah sempat diberitakan media, keluarga miskin ini didatangi donatur dari wilayah sekitar dan juga anggota DPR dari FPAN Tjatur Sapto Edy. Dari donatur mereka mendapatkan bantuan Rp 10 juta.

"Sekarang kami menyiapkan surat untuk dikirim lagi ke Jakarta. Surat yang kedua dikirim lewat Dinas Sosial dan LSM Umi Barokah Foundation (UBF) dan Pak Tjatur Sapto Edy. Siapa tahu bisa membantu untuk biaya operasi Istikomah. Sebab surat pertama juga sampai saat ini belum ada jawaban," keluh Wahid.

Menurut Wahid, saat Istikomah dibawa ke RS Dr Sardjito Yogyakarta, biaya bedah plastik untuk rekonstruksi wajah bayi itu dikatakan dokter mencapai Rp 450 juta.

"Harapan saya Ibu Menkes bisa kasih bantuan agar anak saya bisa operasi. Karena kalau saya sendiri tidak mungkin karena biayanya semakin besar. Sebab saya hanya bekerja sebagai buruh tani," tutur Wahid.

Kenapa Istikomah begitu kesulitan mendapat Jamkesmas? Ketua Umi Barokah Foundation (UBF), Umi Barokah yang menjadi pendamping menjelaskan, ini lantaran keluarga Istikomah tidak dapat dimasukkan ke Jamkesmas. Mereka dianggap sebagai pengungsi Merapi di wilayah Kondisi Rawan Bencana (KRB) II yang hanya bisa mendapatkan bantuan operasi kesehatan maksimal Rp 50 juta.

"Kami sudah berupaya meminta bantuan, termasuk ke Dinas Kesehatan Pemkab Magelang tetapi mentok. Dana sesuai pagu pemda menurut mereka hanya segitu (Rp 50 juta)," jelas Umi.

Oleh karena itu surat dikirimkan ke P2JK agar Istikomah bisa mendapatkan Jamkesmas. Dalam kesempatan berbeda, Kepala Puskesmas Kecamatan Dukun dr Edi Suharso membenarkan surat kepada P2JK Kemenkes belum mendapatkan jawaban. Perangkat desa pun kebingungan. Jika Istikomah terlalu lama didiamkan, dikhawatirkan dia akan terjangkit infeksi karena kondisi wajahnya yang terbuka.

"Kami selaku perangkat desa tidak tahu harus mencari dana kemana lagi. Surat yang kami layangkan ke PJ2K juga tidak ada jawaban. Sementara kondisi Istikomah semakin memprihatinkan," ucap Edi Suharso.


(fay/nrl)


Berita Terkait