"Iya terutama dendam karena pimpinan mereka ditangkap. Ba'asyir juga, termasuk dan terutama dia," ujar Kadivhumas Polri Irjen Pol Anton Bachrul Alam di Mabes Polri, Jl Trunojoyo, Jaksel, Selasa (14/6/2011).
Menurut Anton, tindakan kepolisian yang menangkap dan menembak mati pimpinan mereka membuat kelompok menyerang polisi. Baik diserang melalui senjata api maupun menggunakan racun.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Anton menjelaskan, umumnya kelompok teroris ini memiliki pemahaman radikal karena pernah masuk kelompok Jaringan Islamiyah (JI). Para tersangka juga pernah mendapatkan pelatihan militer.
"Mereka telah mendapat pelatihan pra militer di Poso 2010 pada Agustus dan terakhir Mei 2011," jelas Anton.
"Tanggal 18-19 Mei mereka latihan, tanggal 25 mereka menembak anggota kita," terangnya.
Jaringan kelompok ini, lanjut Anton, mempunyai keterampilan lengkap untuk perang. Seperti merakit bom, menggunakan senjata dan racun.
"Memiliki hubungan dengan kelompok Solo, Cirebon, dan Kalimantan," tandasnya.
(ape/ndr)











































