"Ada kecenderungan partai-partai besar saling menyandera. Karena masing-masing punya kartu truf. Seandainya antar partai ini sibuk saling menyandera, maka pada 2014 tidak punya komitmen untuk membenahi fungsi representasi," ujar pengamat politik Arie Sudjito dalam perbincangan dengan detikcom, Selasa (14/6/2011).
Hal itu disampaikan Arie terkait hasil survei Lingkaran Survei Indonesia (LSI) yang menyebut Golkar paling diuntungkan dari kasus Nazaruddin di Demokrat. LSI menyebut, Golkar diuntungkan karena memiliki platform yang sama dengan PD.
"Kasus cek pelawat misalnya jadi kartu truf PDIP dan Golkar. Lalu PKS ada kasus daging. Sedangkan Demokrat ada kasus Century dan Nazaruddin. Kalau masing-masing sibuk menjaga kartu trufnya, maka yang menjadi problem riil tak pernah diperdebatkan," tuturnya.
Bahayanya, sambung Arie, kalau parpol terjebak pada politik saling sandera maka penyelesaiannya menjadi transaksional. Dia berpendapat Setgab Koalisi bisa menjadi alat negosiasi.
"Jika politik saling sandera terus ada dan bahkan terus menguat maka akan terjebak pada transaksi para elite. Akan terjadi penurunan (kualitas) elite yang bisa diukur pada Pemilu 2014," imbuh pria yang juga Ketua Umum Pergerakan Indonesia ini.
Arie menengarai, politik saling sandera ini akan menguat saat Pemilu 2014 sudah semakin dekat. Saat hal itu terjadi, antar parpol akan saling sikat dan masing-masing parpol akan sibuk sendiri. Dikhawatirkan, parpol tidak akan lagi bicara program tapi bicara kasus yang membelit sehingga kualitas demokrasi jadi buruk.
"Ini akan semakin mengeras menjelang Pemilu 2014. Semua partai kelihatan busuk. Kalau memang ada masalah di partai, sebaiknya dibongkar saja semua sehingga tidak saling sandera. Ini agar semua clear dan tak ada yang transaksional. Gejala politik saling sandera ini muncul karena borok partai mulai terbongkar," ucapnya.
(vit/fay)











































