"Waktu itu saya sampai dipanggil Pak Harto di kediamannya. Beliau tanya kenapa saya sampai demo Pertamina," ujar Sofyan saat membacakan pledoi di Pengadilan Tipikor, Jl HR Rasuna Said, Jakarta Selatan, Senin (13/6/2011).
Pada penguasa orde baru itu, Sofyan menjelaskan soal dugaan korupsi di Pertamina. Selain itu dia pun mengungkapkan soal penyimpangan di bea cukai hingga saat itu pupuk menjadi mahal dan sulit didapat petani.
Menanggapi berbagai penyimpangan itu, Soeharto mengaku sedikit memberikan toleransi karena saat itu pemerintah belum bisa menaikkan gaji TNI/Polri serta PNS.
"Saya tanya sampai dimana toleransinya. Dijawab sampai anak-anak PNS bisa sekolah dari sekolah dasar sampai kuliah," jelas Sofyan.
Setelah pertemuan itu, utusan Cendana kemudian menawarkan Sofyan memilih untuk bekerja di Pertamina atau Bea dan Cukai. Sofyan memilih Pertamina, tetapi hanya minta disekolahkan. Akhirnya sambil menunggu beasiswa dia sempat bekerja selama 2 tahun di Pertamina. Dia kemudian disekolahkan di Akademi Geologi di Bandung.
"Kalau bekerja saya tidak mau karena ingin berjuang untuk masyarakat," jelas politisi PPP ini.
Sofyan juga mengaku dibesarkan dari keluarga pas-pasan. Dia harus berjualan balon atau koran untuk bisa bersekolah.
Dalam penutup pledoinya, Sofyan meminta majelis hakim membebaskan dirinya. Dia mengaku tidak tahu menahi soal TC ini.
Sidang selanjutnya akan digelar Senin (20/6) dengan agenda tanggapan jaksa atas pledoi.
(rdf/gah)











































