Tarif Flat Commuter Line Bisa Bikin Penumpang KRL Pindah Moda

Tarif Flat Commuter Line Bisa Bikin Penumpang KRL Pindah Moda

- detikNews
Senin, 13 Jun 2011 16:05 WIB
Tarif Flat Commuter Line Bisa Bikin Penumpang KRL Pindah Moda
Jakarta - Commuter Line yang akan menggantikan KRL Ekspres dan AC Ekonomi pada 2 Juli 2011 nanti mengenakan single tariff, jauh-dekat sama saja. Akan lebih fair kalau tarif yang dikenakan berdasar jarak, agar penumpang KRL tidak beralih ke moda transportasi lain.

Masukan tarif berdasar jarak itu dilontarkan pakar bidang transportasi dari Universitas Gajah Mada (UGM) Prof Dr Tech Ir Danang Parikesit MSc. Berdasarkan hasil kajian Danang ke Jepang, ada 2 isu penting yang menjadi perhatian.

"Pertama, yang namanya KA Komuter itu kalau dia di atas 20-25 kilometer, jaraknya memang sebaiknya ada 2 service level, ekspres dan biasa. Sehingga bisa jadi ukuran, line dengan line lain tidak bisa disamakan," jelas Danang ketika berbincang dengan detikcom, Senin (13/6/2011).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Danang menjelaskan, dua jenis layanan (ekspres dan reguler) yang diberikan sangat sensitif bagi penumpang. "Itu bisa sangat sensitif untuk pindahnya orang dari kereta ke kendaran lain seperti bus atau mobil pribadi," jelasnya.

Kedua, pada saat mengadakan satu layanan, seharusnya biaya operasi bisa lebih murah. "Jadi, ini pertanyaan kita, sistem itu untuk mengurangi subsidi pemerintah atau apa? Biaya pada konsumen yang lebih harusnya berkurang karena sistemnya lebih sederhana," jelas Doktor bidang transportasi lulusan Technische Universitaet Wien, Austria ini.

Di Jepang, menurut Danang, kereta dengan jarak di atas 30 km, memiliki layanan ekspres dan reguler, dengan tarif berdasarkan jarak. Sedangkan kereta dengan jarak antara 20-30 km, hanya ada layanan reguler dengan tarif flat.

"Harus ada porsi yang jelas untuk merumuskan satu layanan. Dari perspektif PT KA, bisa mendapatkan uang lebih banyak. Dari sisi perspektif masyarakat yang menggunakan, kalau single tarif semua itu nanti penumpang akan pindah ke bus atau angkutan pribadi, karena masyarakat kita cukup sensitif tentang harga. Tarif idealnya lebih fair," jelasnya.

Masalah koneksi atau feeder dari dan ke stasiun bagi penumpang juga harus diperhatikan. Feeder ini berhubungan dengan transportasi darat atau moda transportasi yang lain, mengingat Commuter Line bertujuan untuk mengurangi kemacetan di Jakarta pada tahun 2019.

"Sebenarnya persoalan besarnya koneksinya. Itu (Commuter Line yang mengurangi kemacetan) dari perspektif perusahaan, yang penting masyarakat pengguna jangan sampai dirugikan, mendorong lebih banyak orang pakai angkutan umum. Yang penting koneksi dari stasiun ke tujuan akhir. Namanya KA, dia backbone, tapi backbone tanpa interkoneksi dengan sistem backbone yang lain ya percuma," tandas Danang.

Sebelumnya, Commuter Line yang akan meluncur 2 Juli 2011 ini menerapkan single tariff. Menurut PT Kereta Commuter Jabodetabek (KCJ) berhenti di stasiun yang jauh atau dekat, tarifnya sama saja. Untuk jurusan Bogor - Jakarta, penumpang KRL commuter line harus mengeluarkan uang sebesar Rp 9.000. Sedangkan untuk KRL jurusan Manggarai - Serpong atau Bekasi - Jakarta, harga tiketnya adalah Rp 8.000.

(nwk/fay)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads