Single tariff ini menurut PT Kereta Commuter Jabodetabek (KCJ) adalah flat, artinya berhenti di stasiun yang jauh atau dekat, tarifnya sama saja. Untuk jurusan Bogor - Jakarta, penumpang KRL commuter line harus mengeluarkan uang sebesar Rp 9.000. Sedangkan untuk KRL jurusan Manggarai - Serpong atau Bekasi - Jakarta, harga tiketnya adalah Rp 8.000.
"Lha itu yang mesti perlu dikoreksi lagi, karena kalau dalam kota idealnya Rp 7 ribuan, ya maksimal Rp 7.500-lah. Itu untuk dalam kota, kalau naiknya dari Cilebut atau Bojong ya itu jauh," jelas Direktur Institut Studi Transportasi (Intrans) Darmaningtyas ketika berbincang dengan detikcom, Senin (13/6/2011).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kalau sistemnya sudah jalan, termasuk elektronik ticketing jalan, tarifnya bisa dibikin per jarak, kalau sistemnya sudah jalan. Karena kalau tiket elektronik lebih mudah, kalau naik subway MRT di Singapura atau Thailand kan berdasarkan jarak," jelas Darmaningtyas.
Untuk Commuter Line ini, Darmaningtyas yang juga pengguna kereta komuter Pasar Minggu - Kota / Tanah Abang ini menyambut baik. Karena pengguna kereta komuter akan memiliki pilihan kereta yang lebih banyak.
"Kalau saya sebagai pengguna kereta senang sekali. Karena itu akan memberikan banyak alternatif bagi saya untuk naik kereta," jelasnya.
Darmaningtyas mengakui pasti akan ada penambahan waktu tempuh yang menimbulkan kekecewaan, terutama bagi para pengguna KRL Ekspres. Selama menjadi pengguna KRL, Darmaningtyas mengeluhkan gerbong kereta yang selalu penuh dan headway (jarak antar kereta) yang tidak tentu. Namun, dirinya mendukung Commuter Line bila hal itu membuat headway lebih teratur.
"Baguslah, diuji coba dulu saja, baru nanti kalau ada yang kurang bisa dikritik," tuturnya.
(nwk/vta)











































