Pen Gun & Racun Dipakai Teroris Agar Tak Mencolok & Praktis

Pen Gun & Racun Dipakai Teroris Agar Tak Mencolok & Praktis

- detikNews
Senin, 13 Jun 2011 12:45 WIB
Jakarta - Polisi menemukan 4 pen gun saat menggerebek terduga teroris di Kemayoran dan Tambora, Jakarta. Pen gun ini maupun racun ditengarai dipilih sebagai alat oleh kelompok teroris agar tak mencolok dan praktis.

"Pen gun itu bukan hal baru. Alat ini dipakai karena bentuknya yang kecil, mudah dibawa, tidak mencurigakan dan memiliki unsur keberhasilan dalam penyerangan," ujar pengamat intelijen Wawan Purwanto, saat dihubungi detikcom, Senin (13/6/2011).

Polisi menengarai, terduga kelompok teroris berencana meracuni polisi. Untuk bisa meracun sekelompok orang, racun yang diperlukan tidak perlu berkilo-kilogram. Hal ini berbeda dengan pembuatan bahan peledak yang membutuhkan banyak bahan peledak agar efek ledaknya semakin besar.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Masalah pen gun dan lain ini hanya upaya agar tidak terlalu kentara, untuk menyembunyikan diri. Kalau mereka membawa banyak yang gede-gede tentu akan mudah dilacak. Pakai pen gun dan lainnya dengan alasan praktis," sambung Wawan.

Menurutnya, pendanaan bagi kelompok teroris sudah semakin sulit karena akses bagi mereka sudah banyak ditutup. Untuk diketahui, di waktu lalu, kelompok teroris mendapatkan dana dari Al Qaeda.

"Jika mereka kurang dana dan lalu beraksi dengan meracun, itu dua hal yang berbeda. Meracun itu adalah upaya alternatif melakukan teror. Kalau pendanaan kurang, salah satu indikasinya adalah bom yang dibuat jadi kecil-kecil. Racun menurut saya adalah modus baru di Indonesia karena selama ini banyak menggunakan bom," tutur Wawan.

Dia menambahkan, jika kelompok teroris kesulitan dana, serangan yang dilakukan tak semasif sebelumnya, melainkan hanya sekali-dua kali. Kelompok teroris masih mendapatkan donasi dari orang-orang yang bersimpati kepada kelompok tersebut, meskipun mungkin tidak tahu pasti uang sumbangannya digunakan untuk mendanai aksi teror.

Terkait dengan pimpinan teroris yang satu demi satu telah dilumpuhkan polisi, menurut Wawan, hal itu tidak serta merta membuat terorisme mati. "Kepemimpinan itu patah tumbuh hilang berganti, artinya akan selalu ada yang menggantikan," ucapnya.

Wawan berpendapat, modus melakukan teror akan selalu berubah karena kelompok teroris selalu mempelajari situasi. Jika suatu kegiatan gagal, tentu mereka akan melakukan rencana lainnya agar tidak terbaca oleh aparat keamanan.

Seperti diketahui, 6 terduga teroris ditangkap, Jumat (10/6) di daerah Kemayoran, Jakarta Pusat dan satu di Tambora, Jakarta Barat. Mereka diduga berencana untuk menaruh racun di dalam makanan polisi. Polisi juga menemukan samurai, parang dan 4 pen gun sebagai barang bukti. Kapolri Jenderal Timur Pradopo membenarkan rencana kelompok teroris Kemayoran yang akan meracun polisi itu.

"Sementara mungkin demikian (meracun polisi). Hasil pemeriksaan terhadap tersangka," kata Timur.

Hal itu disampaikan Timur di Bandara Halim Perdanakusumah usai mengantar Presiden SBY yang berangkat ke Swiss, Senin (13/6/2011).


(vit/fay)


Berita Terkait