Cerita dari Perbatasan RI-Malaysia (2)
Ringgit & Mobil Mewah di Badau
Selasa, 22 Jun 2004 09:28 WIB
Badau - Badau merupakan perbatasan Kalbar dengan Serawak. Tapi Ringgit Malaysia lebih ngetop ketimbang Rupiah Indonesia. Mobil mewah pun kerap seliweran.Tidak ada yang berubah di Badau, kecuali semakin banyaknya debu yang beterbangan dan lobang yang menganga di jalanan. Tak heran, untuk mencapai Badau di perbatasan Kalimantan Barat (Indonesia) dengan Serawak (Malaysia) ini lebih enak jika kita menggunakan jalanan di Malaysia.Setelah chop paspor di Entikong dan Tebedu, perjalanan bisa dilanjutkan melalui jalanan aspal yang mulus hingga ke Serian, dan kemudian berbelok ke timur ke arah kota Seri Aman hingga kemudian ke Lubok Antu. Total jenderal waktu yang diperlukan sekitar 15 jam sejak kota Pontianak untuk mencapai Badau menggunakan jalur ini.Jika tidak menggunakan jalur ini, maka bersiap-siaplah menggunakan jalanan yang berlobang dan berliku, melalui Sanggau, Sintang, hingga Putussibau di Kapuas Hulu. Lalu, lanjutkan perjalanan melalui jalan yang sebetulnya sudah tidak layak lagi disebut jalan. Total jenderal perjalanan, sekitar 2,5 hari perjalanan dari Pontianak.Kalau mau memotong jalan, dari kota Sintang atau Semitau kita bisa menggunakan speedboat menyusuri Sungai Kapuas dan Danau Sentarum hingga ke Lanjak. Perjalanan dengan speedboat ke Lanjak dari Sintang sekitar 5 jam dan dari Semitau sekitar 2 jam.Dari situ, masih ada jalan darat lagi sekitar 50 km, lagi-lagi juga lewat jalanan yang layak dipakai off road. Atau mau singkat lagi, dari Sintang kita bisa naik ojek selama 7 jam menyusuri jalan setapak di perbukitan dan kebun kepala sawit. Risikonya, kalau ban bocor dan sopirnya ngambek, kita bisa melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki.Tapi itulah Badau. Sekitar satu tahun yang lalu, penulis juga sempat menyinggahi desa terakhir di tepi perbatasan dan merupakan pintu keluar-masuk ke kota Lubok Antu. Di tengah keterpencilannya ini, Badau tetap menjadi incaran dan tujuan para pencari kerja. Orang-orang yang mempunyai tenaga dan semangat kerja keras, akan dengan mudah mencari penghasilan di desa terpencil ini.Menurut Suroso (37), pendatang dari Cilacap dan sudah menetap selama 8 tahun di Badau, masih banyak pendatang-pendatang baru yang mencari kerja ke situ. "Kalau bekerja di sini, ya ke mana lagi kalau bukan ke sawmill-sawmill yang ada. Enak kerja begitu, dibayarnya dengan standar ringgit," tuturnya. Sehari, para pekerja di situ bisa mendapatkan penghasilan antara 15-20 ringgit.Gairah kehidupan di sini memang cukup terasa. Kendaraan-kendaraan yang di Jawa tergolong mewah, sudah jamak berkeliaran di situ. Namun seperti halnya kendaraan yang datang dari negeri jiran di seberangnya, masyarakat di situ juga lebih suka mengukur besaran transaksi dengan mata uang Ringgit Malaysia.
(sss/)











































