Diknas Hancurkan Cita-cita Kami

Korban Konversi UAN

Diknas Hancurkan Cita-cita Kami

- detikNews
Selasa, 22 Jun 2004 09:30 WIB
Jakarta - Redaksi detikcom masih menerima sejumlah e-mail dari pembaca berkaitan dengan kontroversi konversi nilai Ujian Akhir Nasional (UAN). Salah satunya adalah Marwan Riyandi yang baru saja lulus dari SMA Taruna Nusantara, sebuah sekolah unggulan yang rata-rata lulusannya melanjutkan ke Akademi Militer (Akmil).Marwan adalah korban konversi. Gara-gara nilainya dikonversi, akhirnya dia dan sejumlah temannya gagal ikut testing masuk Akmil. Seperti diketahui, siswa yang bisa menggarap dengan benar 50% lebih soal ujian dalam UAN SMA, maka nilainya akan dipotong 0,02 hingga 1,34. Sedangkan yang menggarap dengan benar kurang 50% nilainya dikatrol 0,16 hingga 1,51.Berikut e-mail Marwan:Nama saya Marwan Riyandi, alumnus SMA Taruna Nusantara. Saya kemarin menghubungi teman saya yang berada di Banjarmasin. Ketika saya menanyakan perihal konversi niai UAN, dia mengatakan sama sekali tidak tahu menahu tentang hal ini. Dia mengatakan bahwa di sana tidak dijelaskan tentang hal itu.Saya sangat terkejut, karena sesuai berita yang saya baca di harian Kompas tanggal 14 Juni 2004 bahwa nilai konversi diberlakukan secara nasional. Saya semakin percaya karena dia mengatakan bahwa jumlah nilainya adalah 93.57, untuk jurusan IPS.Tetapi menurut dia di sana juga terjadi keterlambatan dalam pembagian Surat Tanda Lulus (STL) seperti yang kami alami. STL yang seharusnya diberikan ke sekolah pada hari Kamis (16/6/2004), diberikan ke sekolah Senin, tanggal 21/6/2004.Kemarin ketika Bapak Mendiknas datang ke SMA Taruna Nusantara dan memberikan pidato dalam acara wisuda kami, saya merasa bahwa pidato yang beliau berikan sangat bertentangan dengan kenyataan di lapangan.Beliau mengatakan bahwa penilaian UAN sudah semestinya karena diperlukan perubahan global dalam sistem pendididkan nasional dan UAN diperlukan sebagai alat dalam perubahan tersebut.Tetapi perubahan seharusnya menuju ke arah yang lebih baik, bukan sebaliknya. Beliau juga mengatakan bahwa pendidikan merupakan sebuah human investment.Tetapi bagaimana sebuah investasi bisa berhasil dengan baik jika hal yang diinvestasikan merupakan sebuah penipuan (UAN)? Akankah Indonesia bisa maju jika para generasi mudanya adalah produk dari sebuah penipuan atau pun percobaan?Saya sebagai pelajar merasa bahwa negara ini tidak menghargai sedikit pun kami, para pelajar yang berusaha dengan giat dan gigih. Malahan menghancurkan harapan kami dan cita-cita kami untuk membangun Indonesia, sehingga kebanyakan dari kami lebih memilih untuk belajar dan bekerja di luar negeri. Bukan berarti kami tidak memiliki nasionalisme, tetapi karena negara ini atau mungkin bangsa ini tidak menghargai orang-orang pintar.Mungkin hanya itu yang bisa saya sampaikan mengenai apa yang saya dengar dari teman-teman dan apa yang saya rasakan sendiri terhadap pemerintah (Diknas). (nrl/)


Berita Terkait