Cara Mudah Bedakan Perbatasan

Cerita dari Perbatasan RI-Malaysia (1)

Cara Mudah Bedakan Perbatasan

- detikNews
Selasa, 22 Jun 2004 08:39 WIB
Badau - Malaysia tampak hijau dengan kebun kelapa sawitnya. Sedangkan Indonesia gersang dan berdebu. Inilah kisah illegal logging di perbatasan nan ironis itu.Wartawan detikcom, MMI Ahyani mendapatkan fellowship dari INFORM, satu konsorsium LSM lingkungan hidup untuk melakukan peliputan soal illegal logging di wilayah perbatasan Indonesia-Malaysia. Peliputan dilakukan bulan Juni 2004 ini. Berikut sedikit cerita yang berhasil diperoleh.Tan Teng Gie (60), yang menjadi sopir lori (truk) yang membawa kami dari Lubok Antu (Malaysia) ke Badau (Indonesia) tertawa terkekeh-kekeh saat ditanya dari mana asal kayu yang menumpuk di beberapa sawmill sepanjang perjalanan kami. "Dari mana lagi kalau bukan dari Indon (Indonesia). Malaysia di sini mana ada kayu," katanya dengan akses campuran, antara Melayu, Cina dan Iban.Perjalanan dari Lubok Antu ke Badau, cukup singkat. Sekitar 10 km saja melalui jalanan tanah yang berdebu dan bergelombang melalui perkebunan kelapa sawit. Jalan kualitas kampung yang menghubungan kedua negara itu saat ini memang merupakan perlintasan liar. Tidak ada pos pemeriksaan imigirasi di situ.Batas wilayah antara Indonesia-Malaysia, hanyalah ditandai satu patok kecil. Dan ini yang menarik, saat melintas di wilayah Malaysia semuanya masih tampak hijau kendati sekedar kebun kelapa sawit. Begitu semua pemandangan hijau tadi berakhir dan mata kita tertumbuk pada perbukitan yang merangas, gersang dan berdebu, maka itulah wilayah Indonesia!Saya pun bersama rekan Irfan Junaidi dari Republika secara bercanda menyatakan, patok tanda batas negara tampaknya tidak lagi diperlukan. "Pilot dari udara akan dengan mudah membedakan dia sudah memasuki wilayah udara Malaysia atau masih di Indonesia, hanya dengan melihat pemandangan di bawahnya," kata kami. Kakek Tan Teng Gie pun kembali terkekeh.Kenyataan di lapangan yang ditemui ini mengingatkan kami kembali soal protes Menteri Industri Primer Malaysia Lim Keng Yaik yang menolak semua tuduhan produk-produk kayu di Malaysia dibuat dari bahan kayu ilegal dari Indonesia. Protes itu sehubungan dengan tindakan Indonesia yang meminta Uni Eropa (UE) untuk menolak produk-produk Malaysia. Alasannya, produk itu dibuat dari bahan-bahan kayu yang diimpor secara ilegal oleh Malaysia dari Indonesia.Bukan soal protes itu yang mengherankan. Namun justru lebih kepada bagaimana pemerintah Indonesia sendiri menjaga kekayaan alam yang ada. Mencuri dan memperdagangkan kayu ilegal, bukanlah satu hal yang sulit untuk ditengarai secara kasat mata. Ukuran kayu yang segede gajah, maupun peralatan-peralatan yang dipakai bukanlah satu hal yang begitu mudah untuk disembunyikan. Dan semuanya itu terjadi di depan mata, tanpa ada upaya berarti untuk mencegah, apalagi menghentikannya.Di Lubok Antu Malaysia, tidak seberapa jauh dari pasar dan terminal di kota kecil itu, sudah ada markas satu batalyon TNI yang memang sengaja didirikan untuk bersama-sama menjaga perbatasan dan keamanan perbatasan Malaysia-Indonesia. Dan setiap hari, truk-truk berukuran raksasa itu melintas di depan markas tentara itu. Mustahil, semua kejadian itu berlangsung tanpa diketahui. Atau lebih tepat lagi, tidak bisa dicarikan bukti yang kasat mata.Ketua Dewan Daerah Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) Kalbar Johanes Janting ketika ditemui di Pontianak pun menyatakan hal yang senada. Banyak hal yang membuatnya geregetan. Janting yang turut menemani tim operasi Wanalaga bulan Mei 2004 lalu mengherankan sistem penegakan hukum yang dilakukan Indonesia."Saya sedih dan bingung ketika tim sudah menemukan barang bukti di lapangan, pimpinan operasi dari Jakarta malahan kebingungan, Padahal, tangkap pelaku dan sita barang bukti, diledakkan atau gimana gitu. Padahal waktu itu banyak orang Malaysia dan alat-alat berat. Akhirnya, pelan-pelan orang Malaysia itu meninggalkan lokasi satu per satu. Waktu itu sempat ditangkap empat atau lima orang, tapi itu hanya kucing kurapnya saja. Padahal di Kapuas Hulu, waktu itu operasinya sampai satu minggu," tuturnya.Namun memang itulah yang terjadi. Banyak faktor lain yang juga berbicara, dan kini kondisinya sudah sulit. Mulai dari tawaran fulus para cukong kayu, hingga kehidupan masyarakat di perbatasan, yang notabene berada di pedalaman Kalimantan yang sudah terlanjur terjerat kehidupannya dari kegiatan ekonomi haram ini, hingga perputaran uang yang memang menggiurkan dari bisnis ini. (sss/)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads