Kebebasan Pers Mudah Direbut, Tapi Sulit Dipertahankan
Senin, 21 Jun 2004 22:16 WIB
Jakarta - Kebebasan pers bukan gratisan, harus diperjuangkan. Meski mudah direbut, tapi sulit dipertahankan. Itulah renungan 10 tahun pembredelan Tempo, Detik, dan Editor.Acara peringatan itu digelar di Kedai Tempo jalan Utan Kayu Jakarta, Senin (21/6/2004) malam. Semula dijadwalkan capres Amien Rais memberikan kata sambutan. Tapi dia tidak datang.Turut hadir dan memberikan kata sambutan Pimred Tempo Bambang Harymurti, Pendiri Tempo Goenawan Muhammad, Direktur Imparsial Munir, dan Ketua Front Nasional Perjuangan Buruh Indonesia Dita Indah Sari."Kebebasan pers bukan gratis. Tetapi harus diperjuangkan, direbut, dan dipertahankan. Kebebasan perlu dijaga bersama-sama. Sehingga siapapun yang akan berusaha mengambilnya akan kesulitan. Bangsa Indonesia mampu merebut kebebasan, tapi kurang mampu mempertahankan," kata Bambang.Dia mencontohkan, 10 hari lalu dirinya diundang pertemuan oleh Jahwe seorang wartawan Kamerun yang 126 kali ditangkap. Salah satu masalahnya, Jahwe pada waktu pertandingan sepakbola menulis kalau presidennya kurang sehat. Akibatnya dia ditangkap karena berita itu."Lalu ada wartawan Mozambik bernama Carlos Cardoso yang ditembak mati gangster bayaran, yang diduga disuruh anak presidennya. Uniknya kepala gangsternya kabur ke Kanada dan meminta perlindungan di sana. Tapi istri Calos Cardoso bernama Nina Cardoso tetap berjuang dengan menulis di surat kabar," tutur Bambang.Nyawa pun jadi taruhan untuk sebuah kebebasan.
(sss/)











































