"Saya kenal dekat Syarifuddin sebagai hakim. Dia jadi hakim sebagai atasan dan bawahan," kata Tumpa usai salat Jumat di Masjid MA, Jalan Medan Merdeka Utara, Jakarta, Jumat, (10/6/2011).
Lalu, dia pun menceritakan kisah kedekatan tersebut saat Syarifuddin menjadi hakim di PN Jeneponto. Saat yang bersamaan, Tumpa jadi Ketua Pengadilan Tinggi Makassar. Lantas, Tumpa merekomendasikan Syarifuddin naik pangkat menjadi Ketua Pengadilan Negeri Jeneponto.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Lantas, dari sinilah karier Syarifuddin bersinar. Dari Ketua PN Jeneponto dia dipromosikan menjadi hakim di PN Makassar. Pertimbangan Tumpa kala itu karena di Makassar banyak terjadi demonstrasi massa. Sehingga perlu hakim yang tegas.
Usai menjabat hakim PN Makassar, karier Syarifuddin seperti tidak terbendung. Tidak berapa lama, Syarifuddin pun jadi Ketua PN Makassar. Setelah itu, Syarifuddin langsung memasuki ibukota dengan menjadi hakim di PN Jakarta Pusat.
Sayang, karier Syarifuddin terjungkal karena di tangkap tangan KPK. "Kedekatan tidak harus diartikan menyetujui semua tindakannya," bela Tumpa.
Kedekatan keduanya sudah jamak diketahui warga pengadilan. Kedekatan ini pula nampak saat Ketua MA melakukan kunjungan kerja ke luar negeri, Syarifuddin kerap ikut membawa Ketua PN Jakpus. Namun, Tumpa meminta kedekatan ini jangan dihubung-hubungkan dalam kasus suap Syarifuddin.
"Tolong jangan dikait-kaitkan. Orang bisa berubah, dulu baik sekarang jelek. Dulu jelek, sekarang baik karena tobat," pinta Tumpa.
"Apakah Syarifuddin dengan Bapak ada hubungan saudara?" cecar wartawan.
"Tidak ada," jawab Tumpa.
"Bukannya berasal dari satu daerah, Soppeng?" tanya wartawan menegaskan.
"Ada berapa ribu orang di Soppeng?" jawab Tumpa dengan tawa.
(asp/mok)











































