BNN juga menangkap kekasih SR, warga negara Nigeria, KA (27).
"Mereka berdua berpacaran," kata Direktur Narkotika Alami, Benny Mamoto, dalam jumpa pers di Gedung BNN, Jl MT Haryono, Cawang, Jakarta Timur, Kamis (9/6/2011).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
SR mengaku tas tersebut baru saja ia bawa dari seorang perempuan yang tidak dia ketahui namanya dari Hotel Al Marwah kamar 201.
"Lapisan atas koper berisikan pakaian dalam wanita. Namun setelah digeledah sabu seberat 5 kilogram disimpan di lapisan bawah dilapisi triplek. Setelah uji laboratorium barang tersebut positif sabu," kata Benny.
Pengakuan SR yang merupakan mantan pekerja di klab malam di kawasan Blok M, barang tersebut hendak dikirim kepada seorang pria berkewarganegaraan Nigeria yang mengontrak di bilangan Kebon Jeruk, Jakarta Barat.
"Di dalam rumah kontrakan KA, petugas menemukan 5 paket sabu yang memiliki berat masing-masing 992-996 gram sabu. Serta 2,73 gram sabu yang sudah mencair," ungkap Benny.
Kepada petugas, KA mengaku paket tersebut milik pria berkewarganegaraan Nigeria yang tinggal di Malaysia, UC. KA mengaku mengenal UC dari rekannya berkewarganegaraan sama dan tinggal di Thailand. Yang membuat terkejut petugas adalah, ketika ditangkap petugas BNN, KA tidak mengantungi paspor atau visa selama tinggal di kontrakan tersebut.
"Ini masalah kita bersama. Mengapa RT atau RW membiarkan orang asing tanpa identitas tinggal di lingkungannya. Kalau RT/RW proaktif, setidaknya mampu mencegah peredaran narkotika," tegas Benny.
Selama tinggal di kontrakan, warga Nigeria itu menyaru sebagai pengusaha dan penyuplai garmen di wilayah Jakarta. Dari penyidikan petugas diketahui KA malang melintang dalam peredaran narkotika sejak tahun 2001.
Ditangkapnya SR, kata Benny, yang berperan sebagai kurir narkotika menambah panjang daftar perempuan yang dimanfaatkan jaringan narkotika internasional.
"Bagi para perempuan Indonesia diimbau jangan mudah dibujuk rayu untuk menjadi perantara peredaran narkotika. Jangan mudah mengambil jalan pintas," imbau Benny yang pernah bertugas di Interpol ini.
Ditempat sama, SR mengaku nekat menjadi kurir narkotika karena terdesak kebutuhan hidup dimana dia menjadi tulang punggung keluarga dan seorang anak yang masih balita.
"Saya butuh buat makan dan kebutuhan anak," kata SR terisak tangis.
SR mengaku telah melakukan 3 kali pengiriman. Sekali kirim sabu dia mendapat upah yang menggiurkan, Rp 10 juta. SR mengaku, sejak perkenalan pertama dengan KA di tempat dia bekerja, dirinya sudah ditawari untuk mengirimkan paket berisi kristal haram.
"Awalnya saya tidak tahu, tapi akhirnya tahu juga dan saya biarkan," kata SR.
(ahy/nwk)











































