"Ah saya sudah malas. Dulu saya laporan, saya menarik kesimpulan KPK rada kurang serius. Waktu pertama kali Nunun berada di Bangkok, lakukan sesuatu, tetapi mereka tidak percaya. Tetap saja mereka beranggapan Nunun berada di Singapura, ya sudahlah," kata Fahmi.
Hal ini disampaikan Fahmi usai menghadiri peluncuran buku "Pak Harto, The Untold Stories" di Museum Sasana Wanabhakti, TMII, Jakarta Timur, Rabu (8/6/2011). Pada Februari silam, Fahmi menuturkan, Nunun berada di Thailand dalam kondisi sehat. Informasinya terbukti benar, tapi sayang Nunun sudah keburu punya "tempat menyendiri" baru di Phnom Penh, Kamboja.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Lebih lanjut Fahmi meminta suami Nunun, Komjen Purn Adang Daradjatun, bersikap ksatria menghadapi kasus yang melilit Nunun.
"Sebagai suami (Adang) ya oke. Tetapi, sebagai pejabat dan sekarang di DPR dan mantan Wakapolri seharusnya bertindak untuk ikut bersama-sama penegak hukum untuk menegakkan hukum. Ya secara ksatrialah," imbau Fahmi.
Berdasarkan pelacakan KPK, selama mengaku tinggal di Singapura, Nunun kerap pergi bolak-balik Thailand-Singapura. Nunun kerap pergi ke Kota Bangkok. Dirjen Imigrasi Bambang Irawan menyebut, Nunun terendus meninggalkan Bangkok ke Phnom Penh, Kamboja, pada 21 Maret 2011.
Sementara Menkum HAM Patrialis Akbar menyebut, berdasar hasil manifes (data penumpang) 23 Maret 2011, Nunun melakukan perjalanan dari Thailand ke Kamboja menggunakan Bangkok Airways.
(aan/nrl)










































