"Nggak ada. Dari pribadi saya nggak ada. Dia istri saya," ujar Adang saat ditanya apakah dirinya berencana membawa pulang Nunun ke Tanah Air.
Hal itu disampaikan Adang yang juga anggota Komisi III DPR usai bertemu dengan Mahkamah Agung di Gedung MA, Jl Medan Merdeka Barat Jakarta, Rabu (8/6/2011).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Marni yang dimaksud Adang adalah Sumarni, bekas sekretaris pribadi Nunun yang mengaku pernah bekerja kepada Nunun selama 14 tahun lebih, sejak 1992. Marni mengaku bertemu Nunun tahun 2010 lalu, kala diminta mengurus obat. Kala itu, menurut Marni, Nunun tengah menjalani pengobatan di Rumah Sakit Mount Elizabeth Singapura. Nunun tidak dirawat inap. Nunun tinggal di sebuah apartemen yang berlokasi di Jalan Scott 28 dekat Orchad Road.
Per Februari 2011, Nunun telah ditetapkan sebagai tersangka kasus dugaan suap dalam pemilihan deputi gubernur senior (DGS) BI. Untuk memudahkan mendatangkan Nunun ke Indonesia, KPK telah meminta Ditjen Imigrasi untuk menarik paspornya. Akhirnya, beberapa hari lalu, Imigrasi pun resmi menarik paspor Nunun.
Berdasarkan pelacakan KPK, selama mengaku tinggal di Singapura, Nunun kerap pergi bolak-balik Thailand-Singapura. Nunun kerap pergi ke Kota Bangkok. Namun, Dirjen Imigrasi Bambang Irawan menyebut, Nunun terendus meninggalkan Bangkok ke Phnom Penh, Kamboja, pada 21 Maret 2011.
Sementara Menkum HAM Patrialis Akbar menyebut, berdasar hasil manifes (data penumpang) 23 Maret 2011, Nunun melakukan perjalanan dari Thailand ke Kamboja menggunakan Bangkok Airways.
Politisi Golkar, Fahmi Idris, hari ini melemparkan informasi gres tentang Nunun. Dia menyatakan, Nunun tinggal di sebuah rumah di Phnom Penh dan pernah dikunjungi suami dan anak-anaknya.
(vit/asy)











































