"Saya sangat yakin presiden nggak mungkin seperti itu (sebagaimana isi SMS-red). Tetapi apa relevansi, di mana proporsionalitasnya presiden tanggapin SMS," kata Haramain dalam rapat Komisi II dengan Mensesneg, UKP4, Seskab di Gedung DPR, Senayan, Jakarta, Rabu (8/6/2011).
Haramain mengatakan, sebagai negara besar, Presiden seharusnya berpikir panjang sebelum menanggapi sesuatu yang bisa memicu kontroversi.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Menurut Haramain, SMS yang direspons itu justru menimbulkan polemik yang tidak konstruktif. Sama tidak konstruktifnya dengan isu Mr A, yang dihembuskan rekan sekomisinya, Ramadhan Pohan, dari Fraksi Partai Demokrat.
"Mohon maaf Pak Ramadhan, saya tidak punya nafsu untuk isu Mr A," kata Haramain yang ditanggapi Ramadhan dengan senyum.
Haramain mengatakan, isu Mr A yang dihembuskan Ramadhan ini telah sukses memancing media untuk memuat berita tersebut. "Efeknya sangat terasa, sangat menguras energi. Apa tidak hal-hal yang lebih strategis yang perlu dibicarakan," ujarnya.
(lrn/irw)











































