Maskapai yang Sering Delay Harus Lakukan Pembenahan Internal

Maskapai yang Sering Delay Harus Lakukan Pembenahan Internal

- detikNews
Rabu, 08 Jun 2011 11:31 WIB
Jakarta - Sejak Sabtu pekan lalu hingga Senin malam, sejumlah calon penumpang Lion Air mengeluhkan delay pesawat yang begitu lama. Maskapai yang sering mengalami penundaan penerbangan dalam waktu lama diminta memberi alasan jelas pada penumpang.

"Perusahaan penerbangan yang terlalu sering terlambat jelas harus melakukan pembenahan internal, janganlah penumpang selalu diberi alasan-alasan yang tidak jelas," kata pengamat penerbangan dari Aero Consulting Jakarta, Harnowo Tripianto, dalam keterangan tertulis yang diterima detikcom, Rabu (8/6/2011).

Dia menjelaskan, setidaknya ada 5 faktor utama yang menentukan ketepatan waktu pemberangkatan suatu penerbangan. Pertama, kesiapan pesawat terbang. Maksudnya, pesawat yang akan digunakan untuk penerbangan harus ada dan dalam keadaan baik, layak dan siap terbang.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Pada umumnya perusahaan mengoperasikan semua pesawat di armadanya dengan jam operasi yang tinggi, hal ini dilakukan agar biaya sewa/penyusutan dan asuransi pesawat menjadi rendah per jam terbang operasinya," terang Harnowo.

Dia menambahkan, jarang ada perusahaan yang sengaja menyiapkan pesawat cadangan karena akan membuat biaya operasi jadi mahal. Jika salah satu pesawat dalam armadanya mengalami gangguan teknis, maka pesawat yang akan digunakan menjadi tidak ada (karena tidak ada pesawat cadangan). Hal ini jelas akan mengacaukan rencana operasi perusahaan tersebut.

"Tindakan yang dapat dilakukan perusahaan penerbangan tidak ada lain ya melaksanakan program maintenance sebaik-baiknya, agar pesawatnya selalu ada dan siap dioperasikan," tambah Harnowo.

Kedua, kesiapan kru. Jika kru di kokpit maupun kabin tidak ada atau tidak hadir pada waktunya, tentu yang menjadi pertanyaan adalah siapa yang akan mengoperasikan suatu penerbangan. Kesiapan kru tentu tergantung pada cukup atau tidaknya jumlah kru yang akan mengawaki seluruh operasi penerbangan, termasuk memperhitungkan maximum duty hours crew.

"Jika tidak cukup ya pasti mengganggu kelancaran operasi atau terjadi keterlambatan atau bahkan pembatalan penerbangan," sambungnya.

Penjadwalan kru dengan menggunakan software hanyalah alat bantu untuk memudahkan pengaturan jadwal kerja kru. Jika jumlah kru kurang, tentunya software apa pun tidak akan ada gunanya. Untuk menjamin keberadaan kru kala pesawat akan terbang, persoalan kemacetan juga sudah harus dipertimbangkan kala menjemput kru sehingga mereka tiba tepat waktu.

Ketiga, jadwal penerbangan. Umumnya, perusahaan penerbangan membuat jadwal penerbangan yang padat karena memaksimalkan utilisasi pesawat dan menetapkan ground time yang pendek. Ground time adalah waktu di darat antara kedatangan dan keberangkatan.

Menurut Harnowo, hal ini wajar dilakukan karena ingin mendapatkan aircraft cost yang rendah. Namun perusahaan penerbangan harus menyadari bahwa jadwal semacam ini rawan keterlambatan.

"Jika ingin memperbaiki on time performance, perusahaan penerbangan mau tidak mau harus meninjau ulang dan mengoreksi jadwal penerbangannya. Jika terjadi keterlambatan penerbangan, perusahaan penerbangan dengan mudah dan enaknya minta maaf dan menyatakan bahwa keterlambatan terjadi karena alasan operasional, tanpa membuat penumpang tahu apa yang sesungguhnya terjadi," tuturnya.

Ketiga hal itu adalah faktor internal perusahaan penerbangan. Dengan demikian, perusahaan penerbangan sendirilah yang harus dan dapat melakukan koreksi.

Keempat, kepadatan lalu lintas udara di suatu bandara. Saat ini operasi penerbangan di seluruh Indonesia mengalami pertumbuhan yang sangat tinggi, sehingga bandara menjadi sangat sibuk.

"Jika sempat memperhatikan, lihatlah bagaimana pesawat antre untuk take off pada penerbangan pagi dari Jakarta menuju berbagai tujuan di Indonesia. Pada siang dan sore hari pesawat antre untuk mendarat di Jakarta. Hal ini jelas akan berpengaruh pada ketepatan jadwal keberangkatan suatu penerbangan," lanjut Harnowo.

Kelima, keadaan cuaca. Pada saat ini hampir semua bandara di Indonesia dilengkapi peralatan navigasi yang diperlukan untuk mendukung operasi penerbangan yang aman dan lancar. Penerbangan yang batal atau terlambat karena cuaca buruk tentu masih ada, tetapi jumlahnya jauh berkurang dibandingkan masa lalu. Cuaca buruk biasanya terjadi sekitar satu jam, sehingga kalaupun ada penerbangan yang terlambat karena cuaca buruk, maka keterlambatan hanya berkisar satu jam saja.

"Jarang cuaca buruk terjadi dalam waktu yang lama. Dua faktor itu, 4 dan 5 di luar kendali perusahaan penerbangan," ucapnya.

Harnowo menyarankan, perusahaan penerbangan yang terlalu sering terlambat harus melakukan pembenahan internal. Selain itu, kompensasi yang diberikan karena keterlambatan jangan sampai mengecewakan konsumen sehingga tidak mampu mengurangi kekesalan penumpang.

"Keengganan dan/atau kelalaian melakukan pembenahan akan berakibat hilangnya kepercayaan calon penumpang dan mereka akan pilih perusahaan penerbangan lain," tutup Harnowo.

(vit/nrl)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads