DPR Usulkan Pembinaan pada Sekolah yang Tak Gelar Upacara Bendera

DPR Usulkan Pembinaan pada Sekolah yang Tak Gelar Upacara Bendera

- detikNews
Selasa, 07 Jun 2011 16:24 WIB
Jakarta - DPR menilai menghormati bendera dalam rangkaian upacara bendera di sekolah-sekolah wajib dilakukan. Manakala sekolah sudah tak lagi menggelar upacara dan hormat bendera, DPR mendukung Kemendiknas untuk mencabut izin dan menutup sekolah tersebut. Namun pembinaan harus dilakukan lebih dahulu.

"Jadi saya minta kepada Kemendiknas untuk melakukan langkah secara khusus untuk membina sekolah tersebut. Karena masalah itu harusnya sudah selesai dan tidak boleh ada kasus seperti ini. Kenapa zaman sekarang ini kok masih ada pikiran seperti itu," kata Wakil Ketua DPR Priyo Budi Santoso sambil geleng-geleng kepala.

Hal ini disampaikan Piyo kepada wartawan di Gedung DPR, Senayan, Jakarta, Selasa (7/6/2011).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Priyo mengaku heran masih ada sekolah yang berpandangan sempit memandang upacara bendera sebagai tindakan syirik. Ini menjadi kewajiban Kemendiknas untuk memberikan pembelajaran kepada sekolah-sekolah tersebut.

"Kalau sekolah tetap tidak mau hormat bendera maka langkah penutupan adalah langkah yang dibenarkan dan kita dukung. Karena masalah penghormatan kepada nilai nasionalisme adalah salah satu bentuk cinta tanah air yang juga ajaran agama," tegas Wakil Ketua DPR, Priyo Budi Santoso.

Namun apabila sekolah tersebut tak juga mengikuti aturan yang berlaku, maka sudah seharusnya sanksi dijatuhkan. Ia sependapat kalau sekolah semacam itu ditutup rapat-rapat.

"Kalau mereka tetap ngotot maka langkah menutup menjadi dibenarkan dan kami mendukung karena ini tidak baik dan bertentangan dengan UUD 1945," tandasnya.

Dua sekolah di Karanganyar, Jawa Tengah terancam ditutup jika tetap menolak menghormat bendera Merah Putih dan menyanyikan lagu kebangsaan. Pengurus kedua sekolah tersebut berkeyakinan, menghormat benda mati, termasuk bendera, adalah perbuatan syirik.

Kedua sekolah itu adalah SMP Al Irsyad di Kecamatan Tawangmangu dan SD Islam Sains dan Teknologi (SD-IST) Al Albani di Kecamatan Matesih. Kedua sekolah tersebut tidak mengadakan upacara bendera di setiap hari Senin, seperti layaknya sekolah lainnya.

Kepala SMP Al Irsyad Tawangmangu, Sutardi, menegaskan menghormati benda mati, termasuk bendera, sama halnya dengan perbuatan syirik. Gerakan hormat, dia samakan dengan gerakan i'tidal dalam salat.


(van/ndr)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads