"Satpam tidak pernah merampok dan merampas harta majikannya, walaupun majikannya tersebut tidak berada di rumah. Ini membuktikan satpam itu sangat amanah, beda dengan pemimpin kita sekarang ini," kata Wakil Ketua Dewan Perwakilan Daerah (DPD) La Ode Ida.
Hal itu disampaikan dia dalam diskusi bertajuk "Korupsi dari Masa ke Masa" di Rumah Perubahan 2.0, Jl Gadjah Mada, Jakarta Pusat, Senin (6/6/2011).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Pejabat hingga level presiden, lanjutnya, harus dididik secara khusus oleh kelompok moralis tentang tata cara mengurus negara. Tujuannya, agar mereka mampu mengemban amanah serta peduli terhadap rakyat yang dipimpinnya.
Saat ini, lanjut La Ode, banyak pejabat yang dari akarnya sudah memiliki gaya hidup hedonis dan mengambil jalan pintas untuk memenuhi keinginannya. Ditambah masa jabatan dibatasi hanya dua periode saja, mereka mengeruk kekayaan negara sebanyak-banyaknya supaya cepat balik modal.
"Karena ongkos untuk menjadi pejabat publik, terutama jabatan politis, saat ini sangat mahal. Itu yang mendorong mereka melakukan tindak pidana korupsi," katanya.
Sedikit membandingkan dengan masa Orde Baru, La Ode mengatakan, kondisi itu rupanya tidak banyak berubah drastis. Dahulu, pejabat dari tingkat bupati hingga gubernur juga melakukan korupsi, namun dengan gaya hidup yang diawasi oleh pemerintah pusat.
"Para koruptor boleh korupsi asal jumlahnya tidak lebih besar dari Soeharto, sehingga itu membuat korupsi tidak seperti sekarang," cetusnya.
(irw/fay)











































