Senpi yang Tewaskan Polisi di BCA Palu Dirakit 75 Meter Dari TKP

Senpi yang Tewaskan Polisi di BCA Palu Dirakit 75 Meter Dari TKP

- detikNews
Minggu, 05 Jun 2011 19:50 WIB
Jakarta - Senjata api jenis M16 yang menewaskan dua polisi di BCA Palu, Sulawesi Tengah itu dirakit dalam jarak sekitar 75 meter dari lokasi. Agar tidak memancing kecurigaan, mereka sengaja tidak membawa utuh senjatanya.

"Senjata dirakit sekitar 75 meter dari BCA. Dirakitnya di kolong jembatan. Senjata rakitan itu tidak dibawa utuh, diurai," ujar Kabid Penum Mabes Polri Kombes Boy Rafli Amar dalam konferensi pers di Mabes Polri, Jl Trunojoyo, Jakarta, Minggu (5/6/2011).

Polisi kini terus mendalami motif pelaku untuk mengungkap tuntas peristiwa tersebut. Hanya saja polisi mengindikasi para pelaku ingin melakukan upaya bersifat jihad dengan melakukan pengumpulan senjata api, termasuk rencana merebut senjata milik Kompi Brimob di Natabalu, Sulteng. Selain itu mereka juga melakukan sejumlah perampokan untuk mengumpulkan dana.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Untuk rencana pengeboman ini belum terungkap, tapi ada aktivitas fa'i pengumpulan alat peralatan karena bom yang disiapkan ini masih disimpan," imbuh Boy.

Pengeboman, menurutnya, bisa dilakukan di tempat umum, kantor pemerintah atau tempat ibadah. Bom yang ditemukan di tangan pelaku ditengarai memiliki daya ledak rendah. Polisi pun masih mendalami dari mana bahan peledak yang didapat kelompok tersebut dan apakah dikumpulkan secara bertahap.

Polisi mengindikasi, kelompok ini adalah kelompok baru, yang diduga terbentuk setahun lalu. Polisi pun masih mengembangkan siapa perakit dari bom yang ditemukan berada di tangan kelompok tersebut. Ditengarai perakitnya berusia sekitar 24 tahun.

Untuk diketahui, polisi telah menembak mati tersangka Dayat alias Faruk yang menjadi eksekutor dan Fauzan alias Carles yang berperan sebagai pengendara sepeda motor, menyiapkan tempat pelaku dan mengatur strategi pada H-1.

Sedangkan dua tersangka pelaku lainnya adalah Aryanto Haluta alias Jafar yang berperan sebagai eksekutor korban dan ikut survei dan Rafli alias Furkon yang berperan sebagai pengendara sepeda motor dan ikut dalam survei bersama tersangka lain. Mereka berdua ditangkap hidup-hidup di Donggala.

Selain itu ada 3 tersangka yang masuk dalam daftar pencarian orang (DPO) yang diduga aktor intelektual dan terlibat dalam proses perencanaan. Mereka adalah S alias AW dan B alias O dan NM alias PE.

"S yang berbahaya, tapi terkait keahlian merakit bom ini belum," kata Boy.

Menurut Boy, dari Aryanto Haluta telah diamankan 20 item barang bukti. Barang bukti yang diamankan antara lain kunci T, bom molotov, serbuk black powder, belerang, bahan besi dan barang lainnya.

"Kita juga mengembangkan dan menggeledah di rumah Ahmad Ridwan (kakak ipar Ariyanto) yang sudah jadi tersangka setelah 29 Mei itu. Ada 23 butir amunisi, dan ini adalah barang yang diminta Aryanto untuk dipindahkan. Ada juga peta Poso, Morowali dan beberapa butir peluru revolver," terang Boy.

Dari pengembangan petugas, ditemukan beberapa barang di tempat penyimpanan bahan peledak yang sudah diamankan Tim Penjinak Bom Polda Sulut. Barang-barang tersebut adalah 4 buah pipa paralon plastik, 4 bom pipa paralon yang masih aktif, serta paku berukuran 5 cm sebanyak 1 kg.

"Bom telah diurai dan diperiksa komponen-komponennya oleh Tim Puslabfor di sana," ucap Boy.

Pada Rabu (25/5) pukul 11.20 Wita, tiga polisi yang berjaga di depan BCA Palu, Jl Emy Saelan, Palu Selatan, Sulawesi Tengah, diberondong peluru oleh 4 pelaku.

Dua polisi di antaranya Bripda Irbar dan Bripda Januar Yudhistira tewas seketika. Sedangkan seorang lainnya dirawat di rumah sakit. Malamnya, pukul 19.00 Wita, dua dari 4 pelaku ditangkap di di wilayah Kecamatan Palolo, Kabupaten Sigi, Sulawesi Tengah.

(vit/mad)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads