"Polisi jangan ambil risiko memburunya dan menembak yang bersangkutan. Sebab akan menimbulkan ketakutan di masyarakat," ujar Wakil Ketua DPR, Priyo Budi Santoso.
Kepada wartawan yang mencegatnya di sela-sela acara Jambore Angkatan Muda Partai Golkar (AMPG) di Bundaran Hotel Indonesia, Jl Thamrin, Jakarta, Minggu (5/6/2011), dia mendorong Kepolisian memperbaiki metode penangkapan para tersangka yaitu sedapat mungkin menghindari aksi tembak menembak.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Lebih lanjut politisi senior Partai Golkar ini menyesalkan mulai maraknya kasus-kasus penembakan dan teror dengan sasaran aparat keamanan. Lebih disesalkan lagi kondisi demikian justru berlangsung di saat Indonesia berusaha untuk menerapkan sistem demokrasi dengan sebaik-baiknya.
"Saya tidak tahu kenapa keamanan kita semakin mirisi (menakutkan/mengerikan), di saat kita menemukan puncak demokrasi. Intelijen harus diberi kewenangan, tapi jangan juga disalahgunakan," kata Priyo dalam logat Jawa yang kental.
Polisi menembak mati dua tersangka pelaku penembakan polisi di depan BCA Palu, lewat baku tembak. Dua pelaku lainnya telah ditangkap tak lama setelah penembakan yang menewaskan 2 polisi tersebut 10 hari lalu.
(lh/nrl)










































