Iklan KPU Tata Cara Nyoblos yang Benar Dinilai Menyesatkan
Senin, 21 Jun 2004 12:12 WIB
Jakarta - Jika membolak-balik koran edisi Senin (21/6/2004), Anda akan menemukan iklan seperempat halaman yang dipasang KPU. Isinya, sosialisasi cara mencoblos yang benar. Tapi, iklan yang tujuannya mulia itu justru menyesatkan.Iklan itu bertajuk "Tata Cara Nyoblos Pemilu Presiden dan Wapres 2004". Isinya menjelaskan cara mencoblos yang benar sehingga surat suara menjadi sah dan bagaimana mencoblos yang keliru sehingga surat suara tidak sah.Untuk suara sah, ada empat kolom gambar. Gambar pertama, menjelaskan suara sah jika mencoblos salah satu foto pasangan calon pada kotak segi empat yang disediakan.Gambar kedua, mencoblos lebih dari satu, tetapi masih di dalam satu kotak segi empat yang memuat nomor, foto dan nama pasangan calon. Gambar ketiga, mencoblos pada salah satu kotak segi empat yang memuat nomor, foto dan nama pasangan calon.Gambar keempat, suara sah jika mencoblos pada salah satu garis kotak segi empat yang memuat nomor, foto, dan nama pasangan calon.Nah, yang menyesatkan, surat suara sah semuanya bergambar pasangan pria dan wanita atau kebalikannya. Tidak ada yang bergambar pria dan pria, atau wanita-wanita. Padahal jumlah kotak pasangan bersuara sah itu ada empat.Sedangkan suara tidak sah bergambar dua gambar pasangan pria-pria dan satu satu gambar pasangan wanita-pria. Kolom pertama bergambar pria-pria dengan keterangan, mencoblos di luar kotak segi empat. Dan gambar selanjutnya adalah mencoblos lebih dari satu pasangan calon."Padahal kita tahu bahwa pasangan wanita-pria itu hanyalah pasangan Mega-Hasyim. Jadi iklan itu menguntungkan pasangan tersebut karena diletakkan pada posisi suara sah," kata pembaca detikcom bernama Tina."Jadi seolah-olah suara jadi sah kalau mencoblos Mega dan Hasyim saja, seperti yang diiklankan. Sedangkan jika memilih pria-pria, maka suaranya jadi tidak sah," sambung karyawati swasta di bilangan Jl.Sudirman, Jakarta ini.Hal yang sama disampaikan pembaca lainnya, Andrianto, lewat telepon. "Iklan itu menyesatkan. Kalau orang terpelajar mungkin bisa memahaminya. Tapi masyarakat kita kan mayoritas bukan orang terpelajar?" kritiknya.Menurutnya, seharusnya suara sah gambarnya lebih bervariasi, atau dicari jalan yang lebih baik agar deskripsinya tidak identik dengan salah satu capres tertentu.
(nrl/)











































