Anak-anak Sedunia Main Wayang Kulit di Norwegia

Laporan dari Hamar

Anak-anak Sedunia Main Wayang Kulit di Norwegia

- detikNews
Kamis, 02 Jun 2011 15:20 WIB
Anak-anak Sedunia Main Wayang Kulit di Norwegia
Hamar - Anak-anak dari berbagai penjuru dunia memainkan wayang kulit pada festival internasional anak-anak Stoppested Verden Festival di Hamar, Norwegia.

Selain wayang juga ada congklak, enggrang, membatik scarf motif jumputan dan gamelan. "Melalui workshop disediakan instruktur ahli gamelan berkebangsaan Norwegia," terang Sekretaris III KBRI Oslo Febby Fahrani kepada detikcom, Rabu (1/6/2011).

Sekitar 8 ribu pengunjung mayoritas anak-anak membanjiri festival anak-anak terbesar di Norwegia, yang berlangsung selama dua hari di Norsk Jernbanemuseum (Museum Kereta Tua Norwegia, red), Hamar (28-29/5/2011).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Diharapkan festival ini dapat menjadi tempat perbauran dan perkenalan budaya, yang pada akhirnya akan menciptakan rasa saling pengertian tinggi dan mempererat persahabatan," ujar produser festival Mocci Ryen saat pembukaan.

Harapan sama juga disampaikan oleh Duta Besar RI untuk Kerajaan Norwegia dan Republik Islandia Esti Andayani ketika bertemu Mocci Ryen di sela-sela festival.

"Juga dengan mengenal budaya Indonesia lebih mendalam, maka hubungan baik akan dapat terus ditingkatkan dan ini adalah modal dasar kerjasama di berbagai bidang antara Indonesia dan Norwegia," demikian Dubes.

Di samping Indonesia, negara-negara partisipan tercatat antara lain Rusia, Jepang, Iran, Vietnam, India, Kenya, Tibet, Turki, Mesir, Etiophia, Argentina, Guatemala, Meksiko, Zimbabwe, Pakistan dan tuan rumah Norwegia.

Selama dua hari festival, Pendopo Indonesia dan Rumah Gamelan Indonesia ramai disesaki anak-anak yang tertarik menonton pertunjukkan wayang kulit, yang di mata mereka semacam puppet show. Mereka juga boleh mencoba menjadi dalang.

Penampilan Tari Bajidor Kahot, Tari Merak, dan Tari Kembang Tanjung yang dibawakan oleh Kelompok Anak Indonesia (KAI) binaan KBRI Oslo, baik di Panggung Utama maupun di Pendopo Indonesia, menyedot perhatian anak-anak dan orangtua pendamping yang mengunjungi festival.

Suguhan sate khas Indonesia langsung dari angkringnya juga menjadi magnet tersendiri. Hujan rintik-rintik, yang menekan temperatur udara di Hamar berubah dingin, membuat sensasi kenikmatan sate menjadi berlipat.

Festival ini tidak hanya menghibur pengunjung dengan aneka tampilan seni budaya tradisional seperti tari, musik, akrobat, permainan anak-anak, melukis tangan dan wajah, namun juga mendidik anak-anak mengenai keragaman kebudayaan, yang dapat mempererat persahabatan antar-bangsa.

(es/es)


Berita Terkait