Perusahan lahan pertanian itu terkait dengan pelaksanaan pembangunan Bandara Kualanamu di Desa Pasar VI, Kecamatan Beringin, Kabupaten Deli Serdang, Sumatera Utara (Sumut). Petugas Project Implementation Unit Pembangunan Bandara Kualanamu dan Kantor Cabang Bandara Polonia menggunakan alat berat untuk meratakan lahan pertanian yang selama ini menjadi gantungan harapan warga yang masih bertahan di lokasi calon bandara tersebut.
"Kami akan kelaparan. Sudah pasti itu. Kami tidak punya mata pencarian lagi, tidak bisa pula bekerja di proyek pembangunan bandara. Jadi, kami minta Pak Gubernur saat ini, yang dulu Wakil Gubernur, Pak Gatot, untuk memberikan kami jatah hidup, jadup, supaya kami tidak lapar," tukas Sudjono, salah seorang warga di Kualanamu, Rabu (1/6/2011).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kasus ini sudah diadukan kepada gubernur, dan ke berbagai tingkat pejabat politik hingga presiden, tetapi tidak ada solusi yang diberikan. Kami hanya ingin relokasi. Itu perjuangan kami selama 10 tahun ini. Tidak ada yang lain," kata Sudjono yang sebelumnya merupakan Ketua Kerukunan Warga Masyarakat Lemah (KWML), paguyuban warga yang belum direlokasi tersebut.
Situasi masyarakat di sana saat ini terus terdesak. Pasalnya pembangunan bandara terus berlanjut tanpa memperhatikan puluhan mereka yang kurang beruntung. Maka, kata Sudjono, inilah saatnya Gubernur Gatot Pujonugroho menunjukkan bukti dari janjinya.
"Kami mengharapkan dia langsung yang membawa nasi bungkus ke kampung ini, memastikan kami tidak lapar. Dia harus menyaksikan kondisi rakyatnya di sini," kata Sudjono yang dibenarkan sejumlah warga lainnya.
Perusakan lahan pertanian warga di Kualanamu itu, sangat merugikan warga. Setidaknya lima hektar lahan yang ditanami palawija dirusak petugas. Petugas tidak bersedia menunggu masa panen yang tidak begitu lama lagi. Sejumlah warga tak urung menangis ketika menceritakan nasibnya kepada sejumlah wartawan yang datang ke lokasi pemukiman tersebut.
(rul/irw)










































