Kepala Bidang Humas Polda Metro Jaya Kombes Baharudin Djafar mengatakan jika kelima pelaku tertangkap berkat rekaman CCTV ATM tersebut.
"Dari rekaman CCTV itu kemudian kita telusuri sehingga pelaku tertangkap," kata Baharudin kepada wartawan di Mapolda Metro Jaya, Jakarta, Rabu (1/6/2011).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Tiga sekuriti ini masih aktif sebagai sekuriti kawal PT Armorindo," katanya.
Sementara itu, Kasubdit Resmob Polda Metro Jaya Kompol Herry Heryawan mengatakan, modus pelaku dalam pembobolan uang adalah dengan cara konvensional.
"Tersangka mengambil uang secara biasa, namun pada saat uang akan keluar dilakukan upaya paksa mematikan mesin ATM," kata Herry.
Setelah uang keluar, tersangka mematikan mesin ATM secara paksa ketika transaksi belum selesai. "Dengan begitu, saldo di rekening tersebut tidak berkurang," katanya.
Pengungkapan kasus ini bermula dari adanya laporan BCA ke Polda Metro Jaya. BCA mencurigai transaksi salah satu sekuriti Armorindo yang berstastus sebagai saksi.
Petugas kemudian menyelidiki alamat pemilik ATM tersebut. Setelah dimintai keterangan, saksi mengaku jika dirinya telah meminjamkan ATM miliknya kepada tersangka CSP.
"Namun saksi tidak mengetahui jika ATM-nya digunakan untuk kejahatan," katanya.
Lebih jauh Herry mengungkapkan, para tersangka telah melakukan tiga kali pembobolan ATM BCA di 3 lokasi yakni BCA Puri Indah, BCA Gracera Meruya dan BCA Citra Garden Extention sejak 22-31 Mei lalu.
Hingga kini, petugas masih mengembangkan kasus tersebut dan mengejar seorang DPO lainnya yang berinisial A.
Dari para tersangka, polisi menyita uang tunai Rp 10 juta, 4 buah helm yang digunakan pelaku saat melakukan pembobolan, 5 handphone, 3 kartu ATM BCA.
"Dengan terungkapnya kasus ini menunjukkan bahwa fungsi CCTV berperan maksimal dan sistem sekuriti yang dimiliki oleh bank swasta sangat efektif untuk menanggulangi potensi kejahatan," tutup Herry.
(mei/anw)











































