Jumlah siswa yang tidak lulus UN tersebut terdiri dari siswa SMP sebanyak 17.770 orang dan siswa MTs sebanyak 2.464 orang. Demikian disampaikan Menteri Pendidikan Nasional (Mendiknas) M Nuh dalam konferensi pers di kantornya, Jl Sudirman, Jakarta Selatan, Rabu (1/6/2011).
Dari jumlah tersebut, Provinsi Kalimantan Barat tercatat memiliki persentase ketidaklulusan paling besar, yakni 6,15 persen. Dimana dengan jumlah peserta yang mengikuti UN sebanyak 60.518 siswa, ada 3.722 siswa yang tidak lulus.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kemudian disusul Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) dengan persentase ketidaklulusan sebesar 2,61 persen. Dimana dengan jumlah peserta sebanyak UN 73.458 siswa, ada 1.919 siswa yang tidak lulus.
Sementara untuk Provinsi Jawa Tengah tercatat ada 4.823 siswa yang tidak lulus, namun secara persentase tidak besar yakni hanya 0,95 persen. Hal ini karena jumlah peserta yang mengikuti UN sebanyak 506.393 siswa.
Sedangkan untuk Provinsi DKI Jakarta, persentase ketidaklulusan hanya mencapai 0,01 persen. Dimana dengan jumlah peserta yang mengikuti UN sebanyak 134.061 siswa, hanya ada 7 siswa yang dinyatakan tidak lulus.
Dari jumlah siswa yang tidak lulus tersebut, sebanyak 19.490 siswa tercatat nilai akhirnya kurang dari 5,5. Sedangkan siswa yang nilai akhirnya di atas 5,5 hanya sebanyak 744 siswa.
Sementara dilihat dari nilai per mata pelajaran, Bahasa Indonesia menempati posisi terendah dengan nilai rata-rata 7,49 dan nilai minimum 0,80. Padahal untuk mata pelajaran Bahasa Inggris, nilai rata-ratanya mencapai 7,65 dengan nilai minimum 0,90. Sedangkan untuk mata pelajaran Matematika, nilai rata-ratanya hanya 7,50 dengan nilai minimum 0,80.
Menurut Kepala Balibang Kementerian Pendidikan Nasional (Kemdiknas) Mansyur Ramli, rendahnya nilai UN pada mata pelajaran Bahasa Indonesia disinyalir karena pemahaman soal dan minat baca para siswa kurang. Diketahui bahwa soal Bahasa Indonesia sarat dengan bacaan.
"Ternyata siswa kita lemah di dalam membaca. Soal-soal Bahasa Indonesia kan selalu diawali dengan bacaan. Mungkin karena terburu-buru waktu, jadi membaca soal tidak dengan cermat. Jika tidak sempurna memahami soal, jadi kesulitan memilih jawaban yang tepat," jelasnya sembari menyebutkan bahwa analisis ini diperoleh dari diskusi dengan berbagai kalangan pendidikan.
(nvc/anw)











































