Pengaduan ke Komnas HAM itu disampaikan Eksekutif Daerah Wahana Lingkungan Hidup (Walhi) Sumut, Syahrul Isman, Selasa (31/5/2011) di kantor Bitra Indonesia Jl. Bahagia, Medan. Menurutnya pengaduan telah disampaikan secara lisan kepada Anggota Subkomisi Mediasi Komnas HAM, M. Ridha Saleh.
βKita berharap agar kasus ini diusut secara tuntas. Termasuk juga masalah-masalah yang timbul karena keberadaan perusahaan pertambangan itu, sehingga menyebabkan terjadinya aksi penolakan dari masyarakat,β kata Syahrul yang memberikan keterangan bersama korban penembakan, Sholat Br Batubara (20) dan Direktur Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Medan, Nuriyono.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Berdasarkan keterangan warga, setelah polisi melepaskan tembakan, masyarakat panik dan lari berhamburan. Tanpa diketahui sebab dan siapa pelakunya, tiba-tiba terlihat telah terjadi kebakaran yang melanda fasilitas. Jadi bukan warga yang melakukan pembakaran seperti yang dituduhkan polisi.
Sementara Sholat Br Batubara dalam kesempatan itu menyatakan, sebelum pingsan akibat terkena tembakan itu, dia mendengar polisi satu kali melepaskan tembakan ke udara. Selanjutnya terdengar satu tembakan yang diarahkan kepada masyarakat yang berunjuk rasa dan ternyata dirinya yang terkena tembakan peluru karet tersebut.
Kendati sudah keluar dari rumah sakit, namun kondisi kesehatan Sholat masih belum pulih. Saat memberikan keterangan itu, dia sempat pingsan dan langsung dibopong oleh ayahnya Hasanuddin Batubara keluar dari ruangan.
Seperti diberitakan sebelumnya, sekitar 600 warga menggelar unjuk rasa di Camp II Sihayo PT SMM untuk menuntut janji yang tak kunjung dipenuhi perusahaan. Beberapa kilometer sebelum sampai di barak, massa dihadang karyawan perusahaan yang dikawal Brimob.
Dalam upaya membubarkan aksi tersebut, polisi melepaskan tembakan dan mengenai seorang warga. Selongsong peluru dari penembakan tersebut kini dipegang warga.
(rul/lh)











































